Rabu, 22 Juli 2020

Kandungan Surah Al-Mujadilah Ayat 11 Tentang Toleransi dan Etika Pergaulan

BERLAPANG DALAM MAJELIS | Website Resmi INSAN

Al-Qur'an Surah Al-Mujadilah Ayat 11

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

"Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Asbabun Nuzul Surah Al-Mujadilah Ayat 11
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Muqotil bahwa ayat ini turun pada hari Jumat. Ketika itu, melihat beberapa sahabat yang dulunya mengikuti perang badar dari kalangan muhajirin maupun anshor (As-Suyuthi, 2008: 554), di antaranya Tsabit ibn Qais mereka telah didahului orang dalam hal tempat duduk. Lalu mereka pun berdiri di hadapan Rasulullah Saw kemudian mereka mengucapakan salam dan Rasullullah menjawab salam mereka, kemudian mereka menyalami orang-orang dan orang-orang pun menjawab salam mereka. Mereka berdiri menunggu untuk diberi kelapangan, tetapi mereka tidak diberi kelapangan. Rasullullah merasa berat hati kemudian beliau mengatakan kepada orang-orang di sekitar beliau, "Berdirilah engkau wahai fulan, berdirilah engkau wahai fulan". Mereka pun tampak berat dan ketidakenakan beliau tampak oleh mereka. Kemudian orang-orang itu berkata, “Demi Allah Swt, dia tidak adil kepada mereka. Orang-orang itu telah mengambil tempat duduk mereka dan ingin berdekat dengan Rasulullah Saw tetapi dia menyuruh mereka berdiri dan menyuruh duduk orang-orang yang datang terlambat (Al-Maraghi, 1993: 23-24)

Memahami Kandungan Surah Al-Mujadilah Ayat 11
Penafsiran Menurut Ahmad Musthafa Al-Muraghi (Tafsir al-Maraghi)
Ayat ini mencakup pemberian kelapangan dalam menyampaikan segala macam kebaikan kepada kaum muslimin dan yang menyenangkannya. Dan Allah SWT akan meninggikan derajat orang-orang mukmin dengan mengikuti perintah-perintah-Nya, khususnya orang-orang yang berilmu di antara mereka, derajat-derajat yang banyak dalam hal pahala dan tingkat-tingkat keridhaan.

Penafsiran Menurut Shafwah at-Tafaasir
Ayat ini menjelaskan untuk saling mamberi kelapangan yaitu pada apa-apa yang dibutuhkan manusia pada tempat, rizki, hati dan juga menunjukan bahwa setiap orang yang meluaskan majelis untuk beribadah kepada Allah SWT, maka Allah akan membuka pintu-pintu kebaikan dan kebahagiaan dan Allah akan meluaskan baginya di dunia dan akherat. Allah SWT akan mengangkat orang-orang mukmin dengan perumpamaan dan perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya, orang-orang yang pandai di antara mereka pada khususnya tingkatan yang tinggi. Allah SWT memberi derajat yang tinggi sampai dengan surga. Ayat ini sebagai pujian kepada para ulama yang mempunyai kelebihan dengan ilmunya, dalam arti Allah SWT mengangkat orang yang beriman dan berilmu di antara orang mukmin. Sebagaimana syafaat kepada tiga orang yaitu para Nabi, ulama, syuhada. Dan keutamaan ilmu dalam keimanan sebagai simbol manusia yang mendapat derajat yang tinggi di sisi Allah SWT. 
 
Penafsiran Menurut M. Quraish Shihab (Tafsir Al-Misbah)
Larangan berbisik yang diturunkan oleh ayat-ayat yang lalu (QS. Al-Mujadilah: 9-10) merupakan salah satu tuntunan akhlak, guna membina hubungan harmonis antar sesama. Berbisik di tengah orang lain mengeruhkan hubungan melalui pembicaraan itu.
Ayat di atas merupakan tuntunan akhlak yang menyangkut perbuatan dalam majelis untuk menjalin harmonisasi dalam satu majelis. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kamu” oleh siapa pun: Berlapang-lapanglah yaitu berupayalah dengan sungguh-sungguh walau dengan memaksakan diri untuk memberi tempat orang lain dalam majelis-majelis yakni satu tempat, baik tempat duduk maupun bukan tempat duduk, apabila diminta kepada kamu agar melakukan itu maka lapangkanlah tempat untuk orang lain itu dengan suka rela. Jika kamu melakukan hal tersebut, niscaya Allah akan melapangkan segala sesuatu buat kamu dalam hidup ini. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu ke tempat yang lain, atau untuk diduduki tempatmu buat orang yang lebih wajar, atau bangkitlah melakukan sesuatu seperti untuk shalat dan berjihad, maka berdiri dan bangkit-lah, Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu wahai yang memperkenankan tuntunan ini dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat kemudian di dunia dan di akhirat dan Allah terhadap apa-apa yang kamu kerjakan sekarang dan masa akan datang Maha Mengetahui (Shihab, 2002: 77).

Kandungan Surah Al-Mujadilah Ayat 11
Q.S. Al-Mujadilah ayat 11 ini memberikan gambaran tentang perintah bagi setiap manusia untuk menjaga adab sopan santun dalam suatu majelis pertemuan dan adab sopan santun terhadap Rasulullah SAW. Ayat 11 ini berhubungan dengan etika dan sopan pendidikan yakni: 
Pertama, Kajian Tekstual. Dalam pandangan Al-Qur'an, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul dan melebihi dari makhluk-makhluk lain guna menjalankan kekhalifahan di muka bumi ini. Sementara itu manusia, menurut al-Qur'an memiliki potensi untuk meraih ilmu dan mengembangkannya dengan seizin Allah. Berkali-kali Allah menunjukan betapa tinggi derajat dan kedudukan orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan.
Kedua, Kajian Kontekstual. Al-Qur'an menginformasikan kepada umat manusia bahwa ada beberapa alat yang dapat digunakan untuk meraih ilmu pengetahuan, di antaranya: (1) panca indra dan akal yakni ada empat sarana yang dapat digunakan untuk memperoleh ilmu, yaitu pendengaran, mata (penglihatan), akal dan hati; (2) Observasi dan trial and error (coba-coba), pengamatan, percobaan dan tes-tes kemungkinan; dan (3) Akal dan pemikiran. Di samping mata, telinga, dan pikiran sebagai sarana untuk meraih pengetahuan.
Al-Quran pun menggarisbawahi bagaimana pentingnya peran kesucian hati. Ilmu pengetahuan akan mudah diraih dan dipahami dengan baik, apabila hati seorang itu bersih. Dari sinilah para ilmuan muslim menerangkan pentingnya Takziah al-Nafs (penyucian jiwa) guna memperoleh hidayah (petunjuk dan pengajaran serta bimbingan Allah).

Sumber:
Ahmad Musthofa Al-Maraghi. Tafsir al-Maraghi 1, terj. Bahrun Abu Bakar (Beirut: Darul Kutub, 1993)
Jalaludin As-suyuthi, Sebab turunnya ayat al-Qur’an (Depok: Gema Insani, 2008)
Sholeh, Pendidikan dalam Al-Qur’an (Konsep Ta’lim QS. Al-Mujadalah ayat 11), Jurnal Al-Thariqah Vol. 1, No. 2, Desember 2016.

12 komentar:

  1. Subhanallah.. Maha suci Allah atas semua kuasanya.. Alhamdulillah setelah saya membaca materi ini,, saya lebih paham lagi bahwasanya.. Apabila seorang mukmin melakukan suatu kebaikan,, menaati semua perintahnya dan tidak melakukan suatu hal yang dilarang oleh Allah .. Maka niscaya Allah akan meninggikan derajatnya.. Alhamdulillah



    Hasna hadiroh pak

    BalasHapus
  2. Masya allah ,memang setiap apa yng dilakukan seseorang haruslah dengan ilmunya, setiap adab adaban pun harus dengan ilmu ny agar bernilai pahala dari Allah SWT.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Ayat ini memotivasi kepada orang-orang yang beriman untuk menuntut ilmu dan menjadi orang yang berilmu

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  8. Alhamdulillah setelah memahami bacaan diatas, bahwa setiap mengikuti perintah Alloh dan Rosul-Nya akan selalu mendatangkan kebaikan, dan bagi orang yang berilmu, derajat dan pahala baginya. باركموالله

    BalasHapus
  9. Ternyata kesucian hati berperan penting ya pak, untuk lebih mudah memahami suatu ilmu..

    BalasHapus
  10. Hendaknya dalam menuntut ilmu juga memberikan kemudahan bagi orang lain dalam menuntut ilmu seperti kita juga, sebab Allah juga akan memudahkan kita baik di dunia dan akhirat bagi siapa yang memudahkan saudaranya dalam kesulitan.

    BalasHapus
  11. Maa Syaa Allah tabarokallah,Segala sesuatu memang tergantung pada niatnya.Termasuk dalam mencari Ilmu.Niat seseorang Yang mencari Ilmu Karena Allah,dengan kelapangan hati Insyaa Allah ilmu yang di dapat pun bermanfaat.

    BalasHapus
  12. Ayat ini adalah tuntunan bagi umat yang beriman..Jika kita berniat untuk mencari ilmu karena allah dengan ke ikhlassan niscaya ilmu yang kita dapat akan bermanfaat di dunia maupun akhirat

    BalasHapus