يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ
فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ
دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
"Hai orang-orang
beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam
majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.
Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa
yang kamu kerjakan."
Asbabun Nuzul Surah Al-Mujadilah Ayat 11
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan
dari Muqotil bahwa ayat ini turun pada
hari Jumat. Ketika itu, melihat beberapa
sahabat yang dulunya mengikuti perang
badar dari kalangan muhajirin
maupun anshor (As-Suyuthi, 2008:
554), di antaranya Tsabit ibn Qais
mereka telah didahului orang dalam hal
tempat duduk. Lalu mereka pun berdiri
di hadapan Rasulullah Saw kemudian
mereka mengucapakan salam dan
Rasullullah menjawab salam mereka,
kemudian mereka menyalami orang-orang dan orang-orang pun menjawab
salam mereka. Mereka berdiri
menunggu untuk diberi kelapangan,
tetapi mereka tidak diberi kelapangan.
Rasullullah merasa berat hati kemudian
beliau mengatakan kepada orang-orang
di sekitar beliau, "Berdirilah engkau
wahai fulan, berdirilah engkau wahai
fulan". Mereka pun tampak berat dan
ketidakenakan beliau tampak oleh
mereka. Kemudian orang-orang itu
berkata, “Demi Allah Swt, dia tidak adil
kepada mereka. Orang-orang itu telah
mengambil tempat duduk mereka dan
ingin berdekat dengan Rasulullah Saw
tetapi dia menyuruh mereka berdiri dan menyuruh duduk orang-orang yang
datang terlambat (Al-Maraghi, 1993:
23-24)
Penafsiran Menurut Ahmad Musthafa
Al-Muraghi (Tafsir al-Maraghi)
Ayat ini mencakup pemberian
kelapangan dalam menyampaikan
segala macam kebaikan kepada kaum
muslimin dan yang menyenangkannya.
Dan Allah SWT akan meninggikan
derajat orang-orang mukmin dengan
mengikuti perintah-perintah-Nya,
khususnya orang-orang yang berilmu
di antara mereka, derajat-derajat yang
banyak dalam hal pahala dan tingkat-tingkat keridhaan.
Penafsiran Menurut Shafwah at-Tafaasir
Ayat ini menjelaskan untuk saling
mamberi kelapangan yaitu pada apa-apa yang dibutuhkan manusia pada
tempat, rizki, hati dan juga menunjukan
bahwa setiap orang yang meluaskan
majelis untuk beribadah kepada Allah
SWT, maka Allah akan membuka pintu-pintu kebaikan dan kebahagiaan dan
Allah akan meluaskan baginya di dunia
dan akherat. Allah SWT akan
mengangkat orang-orang mukmin
dengan perumpamaan dan perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya, orang-orang yang pandai di antara mereka
pada khususnya tingkatan yang tinggi.
Allah SWT memberi derajat yang tinggi
sampai dengan surga. Ayat ini sebagai
pujian kepada para ulama yang
mempunyai kelebihan dengan ilmunya,
dalam arti Allah SWT mengangkat
orang yang beriman dan berilmu di
antara orang mukmin. Sebagaimana
syafaat kepada tiga orang yaitu para
Nabi, ulama, syuhada. Dan keutamaan
ilmu dalam keimanan sebagai simbol
manusia yang mendapat derajat yang
tinggi di sisi Allah SWT.
Penafsiran Menurut M. Quraish
Shihab (Tafsir Al-Misbah)
Larangan berbisik yang
diturunkan oleh ayat-ayat yang lalu (QS. Al-Mujadilah: 9-10) merupakan salah satu tuntunan akhlak,
guna membina hubungan harmonis
antar sesama. Berbisik di tengah orang
lain mengeruhkan hubungan melalui
pembicaraan itu.
Ayat di atas
merupakan tuntunan akhlak yang
menyangkut perbuatan dalam majelis
untuk menjalin harmonisasi dalam satu
majelis. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan
kepada kamu” oleh siapa
pun: Berlapang-lapanglah yaitu
berupayalah dengan sungguh-sungguh
walau dengan memaksakan diri untuk
memberi tempat orang lain dalam
majelis-majelis yakni satu tempat, baik
tempat duduk maupun bukan tempat
duduk, apabila diminta kepada kamu
agar melakukan itu maka lapangkanlah
tempat untuk orang lain itu dengan
suka rela. Jika kamu melakukan hal
tersebut, niscaya Allah akan
melapangkan segala sesuatu buat
kamu dalam hidup ini. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu ke tempat
yang lain, atau untuk diduduki tempatmu buat orang yang lebih wajar,
atau bangkitlah melakukan sesuatu
seperti untuk shalat dan berjihad, maka
berdiri dan bangkit-lah, Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman
di antara kamu wahai yang
memperkenankan tuntunan ini dan
orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajat
kemudian di dunia dan di akhirat dan
Allah terhadap apa-apa yang kamu
kerjakan sekarang dan masa akan
datang Maha Mengetahui (Shihab, 2002:
77).
Kandungan Surah Al-Mujadilah Ayat 11
Q.S. Al-Mujadilah
ayat 11 ini memberikan gambaran
tentang perintah bagi setiap manusia
untuk menjaga adab sopan santun
dalam suatu majelis pertemuan dan adab
sopan santun terhadap Rasulullah SAW. Ayat 11 ini berhubungan
dengan etika dan sopan pendidikan
yakni:
Pertama, Kajian Tekstual. Dalam
pandangan Al-Qur'an, ilmu adalah
keistimewaan yang menjadikan
manusia unggul dan melebihi dari
makhluk-makhluk lain guna
menjalankan kekhalifahan di muka
bumi ini. Sementara itu manusia,
menurut al-Qur'an memiliki potensi
untuk meraih ilmu dan
mengembangkannya dengan seizin
Allah. Berkali-kali Allah menunjukan
betapa tinggi derajat dan kedudukan
orang-orang yang memiliki ilmu
pengetahuan.
Kedua, Kajian Kontekstual. Al-Qur'an menginformasikan kepada umat
manusia bahwa ada beberapa alat yang
dapat digunakan untuk meraih ilmu
pengetahuan, di antaranya: (1) panca
indra dan akal yakni ada empat sarana
yang dapat digunakan untuk
memperoleh ilmu, yaitu pendengaran,
mata (penglihatan), akal dan hati; (2)
Observasi dan trial and error (coba-coba), pengamatan, percobaan
dan tes-tes kemungkinan;
dan (3) Akal dan pemikiran.
Di samping mata, telinga, dan
pikiran sebagai sarana untuk meraih
pengetahuan.
Al-Quran pun menggarisbawahi bagaimana pentingnya peran
kesucian hati. Ilmu pengetahuan akan
mudah diraih dan dipahami dengan
baik, apabila hati seorang itu bersih.
Dari sinilah para ilmuan muslim
menerangkan pentingnya Takziah al-Nafs (penyucian jiwa) guna
memperoleh hidayah (petunjuk dan
pengajaran serta bimbingan Allah).
Sumber:
Ahmad Musthofa Al-Maraghi. Tafsir al-Maraghi 1, terj. Bahrun
Abu Bakar (Beirut: Darul Kutub, 1993)
Jalaludin As-suyuthi, Sebab
turunnya ayat al-Qur’an (Depok: Gema Insani, 2008)
Sholeh, Pendidikan dalam Al-Qur’an (Konsep
Ta’lim QS. Al-Mujadalah ayat 11), Jurnal Al-Thariqah Vol. 1, No. 2, Desember 2016.
Subhanallah.. Maha suci Allah atas semua kuasanya.. Alhamdulillah setelah saya membaca materi ini,, saya lebih paham lagi bahwasanya.. Apabila seorang mukmin melakukan suatu kebaikan,, menaati semua perintahnya dan tidak melakukan suatu hal yang dilarang oleh Allah .. Maka niscaya Allah akan meninggikan derajatnya.. Alhamdulillah
BalasHapusHasna hadiroh pak
Masya allah ,memang setiap apa yng dilakukan seseorang haruslah dengan ilmunya, setiap adab adaban pun harus dengan ilmu ny agar bernilai pahala dari Allah SWT.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusAyat ini memotivasi kepada orang-orang yang beriman untuk menuntut ilmu dan menjadi orang yang berilmu
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusAlhamdulillah setelah memahami bacaan diatas, bahwa setiap mengikuti perintah Alloh dan Rosul-Nya akan selalu mendatangkan kebaikan, dan bagi orang yang berilmu, derajat dan pahala baginya. باركموالله
BalasHapusTernyata kesucian hati berperan penting ya pak, untuk lebih mudah memahami suatu ilmu..
BalasHapusHendaknya dalam menuntut ilmu juga memberikan kemudahan bagi orang lain dalam menuntut ilmu seperti kita juga, sebab Allah juga akan memudahkan kita baik di dunia dan akhirat bagi siapa yang memudahkan saudaranya dalam kesulitan.
BalasHapusMaa Syaa Allah tabarokallah,Segala sesuatu memang tergantung pada niatnya.Termasuk dalam mencari Ilmu.Niat seseorang Yang mencari Ilmu Karena Allah,dengan kelapangan hati Insyaa Allah ilmu yang di dapat pun bermanfaat.
BalasHapusAyat ini adalah tuntunan bagi umat yang beriman..Jika kita berniat untuk mencari ilmu karena allah dengan ke ikhlassan niscaya ilmu yang kita dapat akan bermanfaat di dunia maupun akhirat
BalasHapus