Kamis, 05 November 2020

Kandungan Surah Al-A'raf Ayat 56 Tentang Melestarikan Lingkungan Hidup

Al-Qur'an Surah Al-A'raf Ayat 56

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ

Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.


Asbabun Nuzul Al-Qur'an Surah Al-A'raf Ayat 56

Al-Qur'an menjelaskan dalam berbagai ayat mengenai potensi manusia untuk mengelola dan memakmurkan alam sekaligus potensi destruktifnya terhadap alam. Dalam hal ini mengenai asbabun nuzul dalam Al-Qur'an surah Al-A'raf tidak terdapat sebuah penjelasan mengenai ayat tersebut secara disiplin ilmu. Berikut penjelasan, dikarenakan tidak setiap ayat mempunyai asbabun nuzul. Namun demikian terdapat korelasi ayat yang mempunyai hubungan keterkaitan dalam ayat tersebut, di antaranya dalam Al-Qur'an surah Al-A'raf ayat 56, dengan QS. Ar-Rum ayat 41-42, QS. Al-Baqarah ayat 11-12, Al-Qashash ayat 77.

Dalam Al-Qur'an surah Al-A'raf ayat 56 tidak terdapat asbabun nuzulnya namun dalam hal ini secara konteks menurut ahli tafsir ayat ini berkenaan tentang kerusakan yang ada di bumi ini. Kerusakan di antaranya yang terjadi sejak zaman Fir'aun, dan kaumnya yang berbicara tentang mereka yang melakukan kerusakan. Dalam ayat ini mempunyai munasabah yang serta dengan surah Al-A'raf ayat 103 dan 142.

Dari pengertian kata kerusakan sebagaimana dalam kandungan ayat di atas sebagaimana kaum-kaum terdahulu yang ingkar terhadap kebenaran, kehidupan mereka berakhir dengan azab Allah SWT. yang sangat dahsyat, seperti Fir'aun dan kaumnya karena pengingkaran mereka terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi Musa AS. Namun munasabah ayat tertentu dikaitkan dengan surah Al-Kahfi ayat 94.


Memahami Kandungan Surah Al-A'raf Ayat 56

Firman Allah Swt.:

{وَلا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ بَعْدَ إِصْلاحِهَا}

Dan janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya. (Al-A'raf: 56)

Allah Swt. melarang perbuatan yang menimbulkan kerusakan di muka bumi dan hal-hal yang membahayakan kelestariannya sesudah diper­baiki. Karena sesungguhnya apabila segala sesuatunya berjalan sesuai dengan kelestariannya, kemudian terjadilah pengrusakan padanya, hal tersebut akan membahayakan semua hamba Allah. 

Alam raya telah diciptakan Allah SWT. dalam keadaan yang sangat harmonis, serasi, dan memenuhi kebutuhan makhluk. Allah SWT. telah menjadikannya baik, bahkan memerintahkan hamba-hambanya untuk memperbaikinya. Satu bentuk perbaikan yang dilakukan Allah SWT. adalah dengan mengutus para nabi untuk meluruskan dan memperbaiki kehidupan yang kacau dalam masyarakat. Siapa yang tidak menyambut kedatangan Rasul, atau menghambat misi mereka, dia telah melakukan salah satu bentuk pengrusakan di bumi. "Merusak setelah diperbaiki jauh lebih buruk dari pada merusaknya sebelum diperbaiki atau pada saat dia buruk. Karena itu, ayat ini secara tegas menggarisbawahi larangan tersebut, walaupun tentunya memperparah kerusakan atau merusak yang baik juga amat tercela."

Larangan membuat kerusakan ini mencakup semua bidang, seperti merusak pergaulan, jasmani dan rohani orang lain, kehidupan dan sumber-sumber penghidupan (pertanian, perdagangan, dan lain-lain), merusak lingkungan hidup, dan sebagainya. Allah SWT. menciptakan bumi dengan segala kelengkapannya ditujukan kepada manusia agar dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan mereka.

Hakikat diciptakannya manusia dengan kelengkapan alam semesta semata-mata untuk menyembah Allah SWT.Agar manusia mendapatkan kedudukan yang tinggi, maka manusia dituntut untuk bertanggungjawab terhadap perbuatannya.

Maka Allah SWT. melarang hal tersebut, dan memerintahkan kepada mereka untuk menyembah-Nya dan berdoa kepada-Nya serta berendah diri dan memohon belas kasihan-Nya. Untuk itulah Allah Swt. berfirman;

{وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا}

Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). (Al-A'raf: 56)

Yakni dengan perasaan takut terhadap siksaan yang ada di sisi-Nya dan penuh harap kepada pahala berlimpah yang ada di sisi-Nya. Ada yang memahaminya dalam arti "takut jangan sampai do'a tidak dikabulkan". Pendapat ini tidak sejalan dengan anjuran Nabi Muhammad SAW. agar berdo'a disertai dengan keyakinan dan harapan penuh kiranya Allah mengabulkan do'a.

Kemudian dalam firman selanjutnya disebutkan:

{إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ}

Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (Al-A'raf: 56)

Maksudnya, sesungguhnya rahmat Allah selalu mengincar orang-orang yang berbuat kebaikan, yaitu mereka yang mengikuti perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Kata muhsinin adalah bentuk jamak dari kata muhsin bagi seorang manusia, sifat ini menggambarkan puncak kebaikan yang dapat dicapai. Yaitu pada saat ia memandang dirinya pada diri orang lain sehingga ia memberi untuk orang lain itu apa yang seharusnya ia ambil sendiri. Sedang ihsan kepada Allah adalah leburnya diri manusia sehingga ia hanya melihat Allah SWT. Karena itu pula ihsan seorang manusia terhadap sesama manusia adalah bahwa ia tidak melihat lagi dirinya dan hanya melihat orang lain.

Seorang muhsin lebih tinggi kedudukannya dari pada seorang yang adil karena yang adil menuntut semua haknya dan tidak menahan hak orang lain, ia memberinya sesuai kadar yang sebenarnya, sedang yang muhsin memberi lebih banyak dari pada yang seharusnya dia beri dan rela menerima apa yang kurang dari haknya.

Dalam ayat ini disebutkan qaribun dan tidak disebutkan qaribatun mengingat di dalamnya (yakni lafaz rahmat) terkandung pengertian pahala; atau karena disandarkan kepada Allah, karena itu disebutkan qaribun minal muhsinin (amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik).

Matar Al-Warraq pernah mengatakan, "Laksanakanlah janji Allah dengan taat kepada-Nya, karena sesungguhnya Dia telah menetapkan bahwa rahmat-Nya amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik."

Pada akhir ayat ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al-Rahman ayat 60:

هَلْ جَزَاۤءُ الْاِحْسَانِ اِلَّا الْاِحْسَانُۚ

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 60)

Maka barang siapa melaksanakan ibadah dengan baik, maka akan memperoleh balasan yang baik pula. Dalam hal ini, Allah SWT juga menyeru untuk berbuat baik dalam segala hal dan mengharamkan berbuat jahat dalam segala hal.


Sumber Rujukan:

Mustakim, Pendidikan Lingkungan Hidup dan Implementasinya Dalam Pendidikan Islam (Analisis Surat Al-A’raf Ayat 56-58 Tafsir Al Misbah Karya M. Quraish Shihab). Journal Of Islamic Education (JIE) Vol. II No. 1 Mei 2017.

M. Maryadi, Analisis Nilai-nilai Pendidikan Lingkungan Dalam Al-Qur'an Surah Al-A'raf Ayat 56 (Telaah Atas Tafsir Al-Misbah). UIN Raden Fatah Palembang. 2016

Tafsir Ibnu Katsir dalam http://www.ibnukatsironline.com/

Rabu, 04 November 2020

Maqashid (Tujuan) Al-Qur'an Al-Karim

Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan maqashid (tujuan) Al-Qur'an Al-Karim. Mahmud Syaltut (w. 1383 H/1963 M) menjelaskan perincian macam-macam maqashid  (tujuan) Al-Qur’an membagi kepada tiga bagian. Pertama, ahkam i’tiqadiyyah (hukum-hukum Akidah). Kedua, ahkam khuluqiyyah (hukum-hukum Etika). Ketiga, ahkam ‘amaliyyah (hukum-hukum perbuatan). Ahkam ‘amaliyyah ini terbagi kepada ahkam ibadat dan ahkam mu’amalat. Ahkam mu’amalat ini terbagi kepada tujuh bagian. Pertama, ahkam pernikahan, talaq, dan hal-hal yang berhubungan dengan keluarga. Kedua, ahkam yang berhubungan hak-hak sipil. Ketiga, ahkām yang berhubungan dengan tindak pidana. Keempat, ahkām yang berhubungan dengan pengaduan dan gugatan perdata serta pidana. Kelima, ahkām yang berhubungan dengan konstitusi/pelaksanaan pemerintahan. Keenam, ahkām yang berkaitan hubungan internasional. Ketujuh, ahkām yang berkaitan dengan perekonomian dan keuangan.


Menurut Muhammad ‘Abd ‘Azhim al-Zarqani (1367 H/1948 M), maqashid Al-Qur’an terbagi tiga. Pertama, sebagai hidayah/petunjuk untuk jin dan manusia. Ciri-ciri hidayah ini bersifat umum dan menyeluruh untuk jin dan manusia dalam setiap waktu sampai hari kiamat dan berlaku untuk semua tempat di Barat maupun di Timur, sempurna, petunjuk yang diberikan sesuai dengan kebutuhan umat manusia. Dalam bidang akidah, syari’ah (ibadat dan mu’amalat) dan akhlak, menghimpun antara dua kebaikan, yaitu kebaikan dunia dan akhirat, menata bagaimana agar terjalin hubungan yang baik antara manusia dengan Tuhannya dan dengan alam sekitarnya serta tidak mengabaikan antara kebutuhan ruhani dan jasmani. Jelas, gaya bahasa yang digunakan mudah dipahami, pelajaran-pelajaran yang terkandung di dalamnya sangat menggugah logika dan perasaan.

Maqashid kedua, merupakan mu’jizat untuk Nabi Muhammad SAW. yang abadi sampai hari kiamat nanti, di antara tanda kemukjizatannya, bahasa dan ushlub yang digunakan, cara penyusunannya berbeda dengan karya-karya ilmiah lainnya, isyarat-isyarat pengetahuan yang dikandungnya menunjukan kehebatannya dalam menanggulangi dekadensi moral bangsa, mampu memenuhi kebutuhan manusia menuju ke arah yang lebih baik.

Dalam memperbaiki akidah dengan cara menunjukan manusia proses penciptaan dan kemana ia akan kembali. Dalam memperbaiki ibadat dengan cara memberikan petunjuk agar manusia membersihkan diri dari kemusyrikan dan kemunafikan, memberikan manfaat untuk semua orang. Dalam memperbaiki akhlak bagaimana manusia menjadi lebih terpuji dan bersikap moderat. Dalam memperbaiki masyarakat dengan cara menghilangkan sifat fanatik golongan dan organisasi. Dalam memperbaiki bidang politik dengan cara berlaku adil untuk semua, terdapat kesamaan hak dan tidak boleh berbuat zalim. Dalam memperbaiki bidang perekonomian dengan cara menyerukan untuk bersikap hemat dan tidak boros, mensubsidi harta pada tempat-tempat yang tepat dan baik. Dalam memperbaiki perilaku kaum perempuan dengan cara memelihara wanita dan menyayanginya, memberikan hak dan memuliakannya. Dalam memperbaiki bidang peperangan dengan cara mengarahkan tujuan perang tersebut sejak awal hingga akhir, kemudian menempatkan sikap yang tepat untuk berdamai dan menepati kesepakatan perdamaian dan proses perbudakan. Dalam memperbaiki cara berfikir dengan cara membebaskan logika dan pemikiran dari keterbelengguan rezim penguasa sehingga tidak dapat bebas berpendapat.

Maqashid ketiga membaca Al-Qur’an merupakan ibadah dan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. walau orang yang membacanya tidak paham isi kandungannya.


Abd al-Karim Hamidi melihat dari tiga maqashid ini dapat dibingkai menjadi tujuh maqashid. Pertama, maqashid dalam bidang akidah. Kedua, maqashid dalam bidang pemikiran dan konsep tentang alam, manusia dan kehidupan. Ketiga, maqashid dalam bidang-bidang perbaikan sosial. Keempat, maqashid dalam bidang tasyri’. Kelima, maqashid dalam bidang perbaikan hubungan antar personal. Keenam, maqashid dalam bidang politik. Ketujuh, maqashid dalam bidang perdamaian dan peperangan.


Sedangkan menurut Yusuf al-Qardhawi, maqashid Al-Qur'an terbagi menjadi tujuh maqashid:

1. Keyakinan dan persepsi yang benar tentang keilahian, pesan (risalah), dan pahala

a. Meletakkan dasar penopang tauhid

Sesungguhnya Al-Qur'an dari awal sampai akhir, adalah seruan untuk tauhid dan penolakan syirik, dan menjelaskan tentang hasil baik dari orang-orang yang mengesakan Allah di dunia ini dan di akhirat, dan konsekuensi buruk dari kaum musyrik di dunia dan di akhirat. Allah SWT. berfirman:

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku. (QS. Al-Anbiya': 25)

b. Memperbaiki aqidah (keyakinan/kepercayaan) pada kenabian

Memperjelas kebutuhan orang akan kenabian dan pesan (risalah), dan menjelaskan fungsi rasul dalam dakwah (berita gembira) dan peringatan. Allah SWT. berfirman:

قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

c. Menetapkan keyakinan iman di akhirat dan pahala

Seperti membangun bukti kemungkinan adanya hari kebangkitan dan menjelaskan hikmah Allah dalam perihal pahala sehingga antara orang yang berbuat baik dan orang berbuat kejelekkan tidak setara. Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّنَ الْبَعْثِ فَاِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَّغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْۗ وَنُقِرُّ فِى الْاَرْحَامِ مَا نَشَاۤءُ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوْٓا اَشُدَّكُمْۚ وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّتَوَفّٰى وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرَدُّ اِلٰٓى اَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْۢ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْـًٔاۗ وَتَرَى الْاَرْضَ هَامِدَةً فَاِذَآ اَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاۤءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَاَنْۢبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍۢ بَهِيْجٍ

Wahai manusia! Jika kamu meragukan (hari) kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu; dan Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak Kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai kepada usia dewasa, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan (tetumbuhan) yang indah. (QS. Al-Hajj: 5)


2. Penetapan harkat dan martabat manusia, khususnya masyarakat yang dhu'afa 

Al-Qur'an menegaskan hak asasi manusia dan martabat manusia dalam segala hal. Contohnya adalah kesetaraan dengan ras, warna kulit, dan garis keturunan lainnya. Allah SWT. berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti. (QS. al-Hujurat: 13)

 

3. Mengarahkan manusia agar beribadah yang baik kepada Allah SWT. dan bertakwa kepada-Nya

Tidak ada kitab suci yang merayakan pujian kepada Allah SWT., dorongan untuk menyembah Allah SWT., harapan akan karunia-Nya, kesetiaan beragama kepada-Nya, jaminan ketenangan dengan mengingat-Nya dan kepercayaan kepada-Nya dalam pernyataan yang paling fasih dan metode paling indah selain Al-Qur'an. Misalnya, Al-Qur'an telah menunjukkan bahwa tugas pertama manusia adalah menyembah Allah SWT. semata. Allah SWT. berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56)


4. Panggilan untuk memurnikan jiwa manusia

Salah satu tujuan Al-Qur'an adalah seruan untuk mensucikan jiwa manusia.Tidak ada kemakmuran di dunia ini dan di akhirat kecuali dengan zakat, seperti yang difirmankan Allah SWT.:

وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰىهَاۖ. فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ. قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ. وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ

Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya. Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu). Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. (QS. Asy-Syams: 7-10)


5. Menciptakan keluarga yang shalih dan keadilan bagi wanita

Salah satu tujuan yang diincar Al-Qur'an adalah terbentuknya keluarga yang shalih, yang merupakan penopang masyarakat yang shalih dan inti dari umat yang shalih, contohnya seperti yang difirmankan Allah SWT.:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. (QS. Ar-Rum: 21)


6. Membangun umat yang terpercaya untuk kemanusiaan 

Di antara tujuan fundamental (mendasar) Al-Qur'an adalah pembentukan umat/bangsa yang berbeda yang menerapkan pesannya dan mendasarkan hidupnya pada keyakinannya, syariat dan cita-citanya, dan itu mendidik generasi-generasi di atas petunjuknya, dan membawa pesannya ke seluruh dunia, membawa rahmat, cahaya dan kebaikan untuk semua umat manusia seperti yang difirmankan Allah SWT. kepada Rasul-Nya.

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ...

Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ”umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia... (QS. Al-Baqarah: 143)

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam. (QS. Al-Anbiya': 107)


7. Mengajak untuk menjadi manusia berilmu yang saling tolong-menolong

Islam, sejak awal seruannya, telah menjadi pesan universal, panggilan untuk semua orang, dan rahmat bagi semua hamba Allah SWT., baik mereka orang Arab maupun orang selain Arab, dan untuk semua negara, baik itu dari arah Timur ataupun Barat, dan untuk semua warna, baik putih atau hitam. Dalam Al-Qur'an kita membaca ayat-ayat mulia yang dengan jelas menyatakan universalitas dakwah, termasuk firman Allah SWT.:

تَبٰرَكَ الَّذِيْ نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلٰى عَبْدِهٖ لِيَكُوْنَ لِلْعٰلَمِيْنَ نَذِيْرًا ۙ

Mahasuci Allah yang telah menurunkan Furqan (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia). (QS. Al-Furqan: 1)

قُلْ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ جَمِيْعًا

Katakanlah (Muhammad), “Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua. (QS. Al-A'raf: 158)

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam. (QS. Al-Anbiya': 107)

Rahmat ini memanifestasikan dirinya dalam seperangkat prinsip atau nilai tertinggi yang dianjurkan oleh Islam, di antara yang paling penting adalah:

a. Pembebasan manusia dari perbudakan kepada manusia

b. Persaudaraan dan kesetaraan manusia

c. Keadilan bagi semua orang

d. Perdamaian dunia

e. Toleransi dengan non-Muslim


Sumber rujukan:

Yermijal Ferdian, Ilmu Tafsir (Jakarta: Kementerian Agama, 2019)

Muhammad Sholeh Hasan, Maqasid al-Qur’an dalam Pemikiran Yusuf al-Qardawi. Disertasi Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta. 2018.