Kamis, 05 November 2020

Kandungan Surah Al-A'raf Ayat 56 Tentang Melestarikan Lingkungan Hidup

Al-Qur'an Surah Al-A'raf Ayat 56

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ

Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.


Asbabun Nuzul Al-Qur'an Surah Al-A'raf Ayat 56

Al-Qur'an menjelaskan dalam berbagai ayat mengenai potensi manusia untuk mengelola dan memakmurkan alam sekaligus potensi destruktifnya terhadap alam. Dalam hal ini mengenai asbabun nuzul dalam Al-Qur'an surah Al-A'raf tidak terdapat sebuah penjelasan mengenai ayat tersebut secara disiplin ilmu. Berikut penjelasan, dikarenakan tidak setiap ayat mempunyai asbabun nuzul. Namun demikian terdapat korelasi ayat yang mempunyai hubungan keterkaitan dalam ayat tersebut, di antaranya dalam Al-Qur'an surah Al-A'raf ayat 56, dengan QS. Ar-Rum ayat 41-42, QS. Al-Baqarah ayat 11-12, Al-Qashash ayat 77.

Dalam Al-Qur'an surah Al-A'raf ayat 56 tidak terdapat asbabun nuzulnya namun dalam hal ini secara konteks menurut ahli tafsir ayat ini berkenaan tentang kerusakan yang ada di bumi ini. Kerusakan di antaranya yang terjadi sejak zaman Fir'aun, dan kaumnya yang berbicara tentang mereka yang melakukan kerusakan. Dalam ayat ini mempunyai munasabah yang serta dengan surah Al-A'raf ayat 103 dan 142.

Dari pengertian kata kerusakan sebagaimana dalam kandungan ayat di atas sebagaimana kaum-kaum terdahulu yang ingkar terhadap kebenaran, kehidupan mereka berakhir dengan azab Allah SWT. yang sangat dahsyat, seperti Fir'aun dan kaumnya karena pengingkaran mereka terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi Musa AS. Namun munasabah ayat tertentu dikaitkan dengan surah Al-Kahfi ayat 94.


Memahami Kandungan Surah Al-A'raf Ayat 56

Firman Allah Swt.:

{وَلا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ بَعْدَ إِصْلاحِهَا}

Dan janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya. (Al-A'raf: 56)

Allah Swt. melarang perbuatan yang menimbulkan kerusakan di muka bumi dan hal-hal yang membahayakan kelestariannya sesudah diper­baiki. Karena sesungguhnya apabila segala sesuatunya berjalan sesuai dengan kelestariannya, kemudian terjadilah pengrusakan padanya, hal tersebut akan membahayakan semua hamba Allah. 

Alam raya telah diciptakan Allah SWT. dalam keadaan yang sangat harmonis, serasi, dan memenuhi kebutuhan makhluk. Allah SWT. telah menjadikannya baik, bahkan memerintahkan hamba-hambanya untuk memperbaikinya. Satu bentuk perbaikan yang dilakukan Allah SWT. adalah dengan mengutus para nabi untuk meluruskan dan memperbaiki kehidupan yang kacau dalam masyarakat. Siapa yang tidak menyambut kedatangan Rasul, atau menghambat misi mereka, dia telah melakukan salah satu bentuk pengrusakan di bumi. "Merusak setelah diperbaiki jauh lebih buruk dari pada merusaknya sebelum diperbaiki atau pada saat dia buruk. Karena itu, ayat ini secara tegas menggarisbawahi larangan tersebut, walaupun tentunya memperparah kerusakan atau merusak yang baik juga amat tercela."

Larangan membuat kerusakan ini mencakup semua bidang, seperti merusak pergaulan, jasmani dan rohani orang lain, kehidupan dan sumber-sumber penghidupan (pertanian, perdagangan, dan lain-lain), merusak lingkungan hidup, dan sebagainya. Allah SWT. menciptakan bumi dengan segala kelengkapannya ditujukan kepada manusia agar dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan mereka.

Hakikat diciptakannya manusia dengan kelengkapan alam semesta semata-mata untuk menyembah Allah SWT.Agar manusia mendapatkan kedudukan yang tinggi, maka manusia dituntut untuk bertanggungjawab terhadap perbuatannya.

Maka Allah SWT. melarang hal tersebut, dan memerintahkan kepada mereka untuk menyembah-Nya dan berdoa kepada-Nya serta berendah diri dan memohon belas kasihan-Nya. Untuk itulah Allah Swt. berfirman;

{وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا}

Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). (Al-A'raf: 56)

Yakni dengan perasaan takut terhadap siksaan yang ada di sisi-Nya dan penuh harap kepada pahala berlimpah yang ada di sisi-Nya. Ada yang memahaminya dalam arti "takut jangan sampai do'a tidak dikabulkan". Pendapat ini tidak sejalan dengan anjuran Nabi Muhammad SAW. agar berdo'a disertai dengan keyakinan dan harapan penuh kiranya Allah mengabulkan do'a.

Kemudian dalam firman selanjutnya disebutkan:

{إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ}

Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (Al-A'raf: 56)

Maksudnya, sesungguhnya rahmat Allah selalu mengincar orang-orang yang berbuat kebaikan, yaitu mereka yang mengikuti perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Kata muhsinin adalah bentuk jamak dari kata muhsin bagi seorang manusia, sifat ini menggambarkan puncak kebaikan yang dapat dicapai. Yaitu pada saat ia memandang dirinya pada diri orang lain sehingga ia memberi untuk orang lain itu apa yang seharusnya ia ambil sendiri. Sedang ihsan kepada Allah adalah leburnya diri manusia sehingga ia hanya melihat Allah SWT. Karena itu pula ihsan seorang manusia terhadap sesama manusia adalah bahwa ia tidak melihat lagi dirinya dan hanya melihat orang lain.

Seorang muhsin lebih tinggi kedudukannya dari pada seorang yang adil karena yang adil menuntut semua haknya dan tidak menahan hak orang lain, ia memberinya sesuai kadar yang sebenarnya, sedang yang muhsin memberi lebih banyak dari pada yang seharusnya dia beri dan rela menerima apa yang kurang dari haknya.

Dalam ayat ini disebutkan qaribun dan tidak disebutkan qaribatun mengingat di dalamnya (yakni lafaz rahmat) terkandung pengertian pahala; atau karena disandarkan kepada Allah, karena itu disebutkan qaribun minal muhsinin (amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik).

Matar Al-Warraq pernah mengatakan, "Laksanakanlah janji Allah dengan taat kepada-Nya, karena sesungguhnya Dia telah menetapkan bahwa rahmat-Nya amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik."

Pada akhir ayat ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al-Rahman ayat 60:

هَلْ جَزَاۤءُ الْاِحْسَانِ اِلَّا الْاِحْسَانُۚ

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 60)

Maka barang siapa melaksanakan ibadah dengan baik, maka akan memperoleh balasan yang baik pula. Dalam hal ini, Allah SWT juga menyeru untuk berbuat baik dalam segala hal dan mengharamkan berbuat jahat dalam segala hal.


Sumber Rujukan:

Mustakim, Pendidikan Lingkungan Hidup dan Implementasinya Dalam Pendidikan Islam (Analisis Surat Al-A’raf Ayat 56-58 Tafsir Al Misbah Karya M. Quraish Shihab). Journal Of Islamic Education (JIE) Vol. II No. 1 Mei 2017.

M. Maryadi, Analisis Nilai-nilai Pendidikan Lingkungan Dalam Al-Qur'an Surah Al-A'raf Ayat 56 (Telaah Atas Tafsir Al-Misbah). UIN Raden Fatah Palembang. 2016

Tafsir Ibnu Katsir dalam http://www.ibnukatsironline.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar