Pengertian Mu'jizat
Secara etimologi kata Mu’jizat berbentuk (isim fi’il) yang berasal dari kata:
اَعْجَزَ – يُعْجِزُ
– اِعْجَازًا - مُعْجِزٌ / مُعْجِزَةٌ
yang berarti melemahkan atau mengalahkan lawan. Mu’jizat juga diartikan
sebagai sesuatu yang menyalahi tradisi atau kebiasaan (sesuatu yang luar biasa).
Secara terminologi, Manna’ Al-Qaththan mendefinisikan mu'jizat sebagai berikut:
اَلْمُعْجِزَةُ
هِيَ أَمْرٌ خَارِقٌ لِلْعَادَةِ مَقْرُوْنٌ بِالتَّحَدِّى سَالِمٌ عَنِ الْمُعَارَضَةِ
“Mu’jizat adalah sesuatu yang menyalahi kebiasaan disertai dengan tantangan
dan selamat dari perlawanan.”
Mu’jizat hanya diberikan oleh Allah SWT. kepada para Nabi dan Rasul-Nya
dalam menyampaikan risalah Ilahi terutama untuk menghadapi umatnya yang
menolak atau tidak mengakui kerasulan mereka. Mu’jizat berfungsi sebagai bukti
atas kebenaran pengakuan kenabian dan kerasulan mereka, bahwa mereka adalah
benar-benar para Nabi dan Rasul (utusan) Allah yang membawa risalah kebenaran dari Allah Swt. Adapun tujuan diberikannya mu’jizat adalah agar para Nabi
dan Rasul mampu melemahkan dan mengalahkan orang-orang kafir yang menentang dan tidak mengakui atas kebenaran kenabian dan kerasulan mereka.
Secara umum mu’jizat para Nabi dan Rasul itu berkaitan dengan masalah
yang dianggap mempunyai nilai tinggi dan diakui sebagai suatu keunggulan oleh
masing-masing umatnya pada masa itu. Misalnya, zaman Nabi Musa AS. adalah
zaman keunggulan tukang-tukang sihir, maka mu’jizat utamanya adalah untuk mengalahkan tukang-tukang sihir tersebut. Zaman Nabi Isa AS. adalah zaman
kemajuan ilmu kedokteran, maka mu’jizat utamanya adalah mampu menyembuhkan penyakit yang tidak dapat disembuhkan pengobatan biasa, yaitu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan dan orang yang berpenyakit
sopak atau kusta, serta menghidupkan orang yang sudah mati. Dan zaman Nabi
Muhammad SAW. adalah zaman keemasan kesusastraan Arab, maka mu’jizat utamanya adalah Al-Qur’an, kitab suci yang ayat-ayatnya mengandung nilai sastra
yang amat tinggi, sehingga tidak ada seorang manusia pun dapat membuat serupa
dengan Al-Qur’an.
Syarat-syarat Mu’jizat
Suatu kejadian atau peristiwa dikatakan sebagai mu’jizat apabila memenuhi
syarat-syarat berikut:
- Mu’jizat adalah sesuatu yang tidak sanggup dilakukan oleh siapapun selain
Allah SWT.
- Mu’jizat adalah sesuatu yang menyalahi kebiasaan atau tidak sesuai dengan
kebiasaan dan berlawanan dengan hukum alam.
- Mu’jizat harus berupa hal yang dijadikan saksi oleh seseorang yang mengaku
membawa Risalah Ilahi sebagai bukti atas kebenaran pengakuannya.
- Mu’jizat terjadi bertepatan dengan pengakuan Nabi yang mengajak bertanding
menggunakan mu’jizat tersebut.
- Tidak ada seorang manusia pun, bahkan jin sekalipun yang dapat membuktikan
dan membandingkan dalam pertandingan tersebut.
Kelima syarat tersebut di atas bila terpenuhi, maka suatu hal yang timbul di
luar kebiasaan adalah merupakan mu’jizat yang menyatakan atas kenabian
atau kerasulan orang yang mengemukakannya dan mu’jizat akan muncul dari
tangannya.
Pengertian I’jazul Qur’an
Rasulullah SAW. menyeru manusia dan mengabarkan kepada mereka bahwa beliau adalah utusan Allah. Di antara mereka ada yang beriman dan ada pula yang kafir. Orang-orang kafir meminta kepada Rasulullah SAW untuk mendatangkan suatu mu'jizat yang menunjukkan kebenaran atas dakwahnya. Lalu Rasulullah SAW menjawab bahwa beliau memiliki suatu mu'jizat yang nyata yaitu Al-Qur'an Al-Karim. Akan tetapi, mereka menuduh Rasulullah sebagai penyair, penyihir, dukun, dan orang gila. Maka Al-Qur'an mengajukan tantangan terutama kepada orang-orang kafir dan siapapun yang
meragukan kebenarannya. Mereka menuduh bahwa al-Qur’an hanyalah sejenis mantera-mantera tukang tenung dan kumpulan syair-syair. Mereka mengira
bahwa al-Qur’an adalah karangan Nabi Muhammad SAW. Tantangan al-Qur’an
diberikan secara bertahap yakni sebagai berikut :
Pertama, Al-Qur’an menantang siapapun yang meragukan kebenaran al-Qur’an untuk
mendatangkan semisalnya secara keseluruhan. Hal ini terkandung dalam QS.
ath-Thur [52] ayat 33-34.
أَمْ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُ ۚ بَلْ لَا
يُؤْمِنُونَ. فَلْيَأْتُوا بِحَدِيثٍ مِثْلِهِ إِنْ كَانُوا صَادِقِينَ.
"Ataukah mereka berkata, ”Dia (Muhammad) mereka-rekanya.” Tidak! Merekalah
yang tidak beriman. Maka cobalah mereka membuat yang semisal dengannya (al-Qur’an) jika mereka orang-orang yang benar." (QS. ath-Thur [52]: 33-34)
Kedua, Al-Qur’an menantang siapapun yang meragukan kebenaran ِal-Qur’an untuk
mendatangkan 10 surah semisalnya. Hal ini terkandung dalam QS. Hud [11] ayat 13-14.
أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا
بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ
اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ. فَإِلَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ فَاعْلَمُوا
أَنَّمَا أُنْزِلَ بِعِلْمِ اللَّهِ وَأَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَهَلْ
أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
"Bahkan mereka
mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat Al-Quran itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat
yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya)
selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar". Jika mereka yang
kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu maka ketahuilah,
sesungguhnya Al-Quran itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwasanya tidak
ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?" (QS. Hud [11]: 13-14)
Ketiga, Al-Qur’an menantang siapapun yang meragukan kebenaran al-Qur’an untuk
mendatangkan satu surah saja semisal al-Qur’an. Hal ini terkandung dalam
QS. al-Baqarah [2] ayat 23.
وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا
عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ
دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ.
"Dan jika kamu meragukan (al-Qur’an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami
(Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar." (QS. al-Baqarah [2]:
23)
Juga dalam QS. Yunus [10]
ayat 38.
أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا
بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ
كُنْتُمْ صَادِقِينَ.
"Apakah pantas mereka mengatakan dia (Muhammad) yang telah membuat-buatnya? Katakanlah, ”Buatlah sebuah surah yang semisal dengan surah (al-Qur’an),
dan ajaklah siapa saja di antara kamu orang yang mampu (membuatnya) selain
Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Yunus [10]: 38)
Pada ayat lain ditegaskan bahwa manusia dan jin tidak akan pernah mampu untuk mendatangkan semisal al-Qur’an baik secara keseluruhan, 10 surah semisalnya, ataupun satu surah saja. Sebagaimana ditegaskan dalam QS. al-Isra’ [17] ayat 88.
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ
عَلَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ
كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا.
"Katakanlah, ”Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) al-Qur’an ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain”. (QS. al-Isra’[17]: 88)
Aspek-aspek Kemu’jizatan Al-Qur’an
Secara garis besar ada dua aspek kemu’jizatan al-Qur’an yaitu:
A. Gaya Bahasa (Uslub)
Al-Qur’an mempunyai gaya bahasa yang khas yang tidak dapat ditiru para
sastrawan Arab sekalipun, karena susunan yang indah yang berlainan dengan setiap susunan dalam bahasa Arab. Mereka melihat al-Qur’an memakai bahasa
dan lafaz mereka, tetapi ia bukan puisi, prosa atau syair dan mereka tidak mampu membuat seperti itu (meniru al-Qur’an). Mereka tidak pernah mampu untuk
menandinginya dan putus asa lalu merenungkannya, kemudian merasa kagum
dan menerimanya, lalu sebagian masuk Islam. Contoh dalam sejarah diterangkan
bahwa Umar bin Khattab RA. menyatakan diri masuk Islam setelah mendengar
ayat-ayat pertama surat Thaha, dan masih banyak contoh lainnya. Inilah bukti
kemu’jizatan al-Qur’an dari segi bahasanya.
Al-Qur’an dalam uslubnya yang menakjubkan mempunyai beberapa keistimewaan-keistimewaan, di antaranya:
1) Kelembutan al-Qur’an secara lafaz yang terdapat dalam susunan suara dan
keindahan bahasanya.
2) Keserasian al-Qur’an baik untuk awam maupun kaum cendekiawan, dalam
arti bahwa semua orang dapat merasakan keagungan dan keindahan al-Qur’an.
3) Sesuai dengan akal dan perasaan, di mana al-Qur’an memberikan doktrin
pada akal dan hati, serta merangkum kebenaran dan keindahan sekaligus.
4) Keindahan dalam kalimat serta beraneka ragam bentuknya, yaitu satu makna
diungkapkan dalam beberapa lafaz dan susunan yang bermacam-macam yang
semuanya indah dan halus.
5) Al-Qur’an mencakup dan memenuhi persyaratan antara bentuk global (ijmal)
dan bentuk yang terperinci (tafsil).
6) Dapat dimengerti sekaligus dengan melihat segi yang tersurat (yang
dikemukakan).
Di samping itu, hal lain yang dapat dicatat dari kemu’jizatan al-Qur’an dari
aspek bahasa adalah ketelitian, kerapihan dan keseimbangan kata-kata yang digunakannya. Hal itu dapat dilihat pada bukti-bukti sebagai berikut:
1) Ketelitian dalam pengungkapan kata-kata
Suatu surat yang diawali dengan huruf-huruf tertentu, di dalamnya selalu
terdapat bahwa huruf-huruf itu, dalam jumlah rata-rata, lebih banyak dan
berulang jika dibandingkan dengan huruf-huruf lainnya. Misalnya:
a) Dalam Surat Qaf, dapat ditemukan Huruf Qaf (ق) berulang-ulang dalam
jumlah rata-rata lebih banyak dari jumlah huruf lainnya. Jumlah rata-rata Huruf Qaf (ق) yang terbanyak di dalam surat Qaf itu ternyata juga
merupakan jumlah Huruf Qaf (ق) yang terbanyak pula dibandingkan
dengan jumlah Huruf Qaf (ق) yang terdapat di dalam surah-surah lainnya
dalam al-Qur’an.
b) Demikian pula dengan Huruf Alif (ا), lam (ل) dan Mim (م) yang
mengawali surah al-Baqarah. Jumlah masing-masing huruf tersebut
ternyata lebih banyak daripada huruf-huruf yang lain. Hal ini dapat dilihat
sebagai berikut:
- Huruf Alif (ا) berulang sebanyak 4.592 kali
- Huruf Lam (ل) berulang sebanyak 3.204 kali
- Huruf Mim (م) berulang sebanyak 2.195 kali
c) Demikian halnya Huruf Alif (ا), Lam (ل) dan Mim (م) yang mengawali
surah Ali ‘Imron:
- Huruf Alif (ا) berulang sebanyak 2.578 kali
- Huruf Lam (ل) berulang sebanyak 1.885 kali
- Huruf Mim (م) berulang sebanyak 1.251 kali
d) Demikian halnya Huruf Alif (ا), Lam (ل) dan Mim (م) yang mengawali
surah al-‘Ankabut :
- Huruf Alif (ا) berulang sebanyak 784 kali
- Huruf Lam (ل) berulang sebanyak 554 kali
- Huruf Mim (م) berulang sebanyak 344 kali
2) Keseimbangan penggunaan kata-kata
Dalam al-Qur’an terlihat pula keseimbangan kata-kata yang digunakan secara
simetris, misalnya:
a) Kata اَلْحَيَاةُ berjumlah 145 kali, sama dengan kata اَلْمَوْتُ berjumlah yang 145 kali
b) Kata اَلدُّنْيَا berjumlah 115 kali, sama dengan kata اَلْآخِرَةُ berjumlah yang 115 kali
c) Kata مَلَائِكَة berjumlah 88 kali, sama dengan kata شَيْطَانُ yang berjumlah 88
kali
d) Kata نَصَائِبُ berjumlah 75 kali, sama dengan kata شُكُوْرٌ yang berjumlah 75
kali
e) Kata زَكَاةٌ berjumlah 32 kali, sama dengan kata بَرَكَةٌ yang berjumlah 32
kali
B. Isi Kandungannya
1) Al-Qur’an mengungkapkan berita-berita yang bersifat ghaib
Hal-hal yang bersifat ghaib yang diungkap dalam al-Qur’an dapat dipilah
menjadi 2 (dua) yaitu:
Pertama, berita menyangkut masa lalu. Sebagai contohnya: kisah Nabi Adam AS., Nabi Nuh AS., Nabi Ibrahim AS., dan Nabi Ismail AS., Nabi Musa AS., dan
kisah lain di masa lalu. Salah satu contoh lainnya sebagaimana diungkapkan
dalam QS. Yunus [10]: 92.
فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ
لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا
لَغَافِلُونَ.
“Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak
mengindahkan tanda-tanda (kekuasaan) Kami.”. (QS. Yunus [10] : 92)
Ayat tersebut menceritakan tentang Fir’aun yang diawetkan dengan cara
dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang. Hal itu bersifat ghaib, karena tidak
ada orang yang mengenalnya. Akan tetapi berita al-Qur’an itu ternyata terbukti
kebenarannya kemudian.
Kedua, berita tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi baik di dunia
maupun di akhirat, misalnya:
الم. غُلِبَتِ الرُّومُ. فِي أَدْنَى الْأَرْضِ
وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ.
“Alif Lam Mim. Bangsa Romawi telah dikalahkan, di negeri yang terdekat dan
mereka setelah kekalahannya itu akan menang.” (QS. Ar-Rum [30]: 1-3)
Ayat tersebut menceritakan tentang kemenangan bangsa Romawi atas bangsa
Persia. Padahal ketika ayat ini diturunkan, belum terjadi peperangan yang dimaksudkan ayat tersebut. Akan tetapi kebenaran berita itu terbukti sembilan tahun
kemudian.
Berita gaib menyangkut masa yang akan terjadi lainnya, misalnya berita tentang kemenangan umat Islam dalam perang Badar dijelaskan dalam QS. Al-Qamar [54]: 45, peristiwa Fathu Makkah dijelaskan dalam QS. Al-Fath [48]: 27, dan
sebagainya.
2) I’jazul ‘ilmi, yakni kemu’jizatan ilmu pengetahuan.
Al-Qur’an mengungkapkan isyarat-isyarat rumit terhadap ilmu pengetahuan
sebelum pengetahuan itu sendiri sanggup menemukannya. Kemudian terbukti
bahwa al-Qur’an sama sekali tidak bertentangan dengan penemuan-penemuan
baru yang didasarkan pada penelitian ilmiah.
Hal ini seperti difirmankan Allah SWT.:
سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي
أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ
بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ.
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di
segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka
bahwa al-Qur’an itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu
menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS. Fussilat [41]: 53)
Banyak ayat al-Qur’an yang mengungkapkan isyarat tentang ilmu pengetahuan, seperti: terjadinya perkawinan dalam tiap-tiap benda, perbedaan sidik jari
manusia, berkurangnya oksigen di angkasa, khasiat madu, asal kejadian alam semesta, penyerbukan dengan angin, dan masih banyak lagi isyarat-isyarat ilmu
pengetahuan yang bersifat potensial, yang kemudian berkembang menjadi ilmu
pengetahuan modern.
Salah satu isyarat ilmu pengetahuan tersebut adalah mengenai perbedaan sidik
jari manusia, firman Allah:
أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَلَّنْ نَجْمَعَ
عِظَامَهُ. بَلَىٰ قَادِرِينَ عَلَىٰ أَنْ نُسَوِّيَ بَنَانَهُ.
“Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? (Bahkan) Kami mampu menyusun (kembali) jari-jemarinya
dengan sempurna.” (QS. Al-Qiyamah [75]: 3-4)
3) Al-Qur’an memberikan aturan hukum atau undang-undang yang bersifat
universal, mencakup segala urusan hidup dan kehidupan manusia.
Secara lebih rinci, Said Husin al-Munawar memberikan rumusan mengenai
aspek-aspek kemu’jizatan al-Qur’an sebagai berikut:
a. Susunan bahasa yang sangat indah, berbeda dengan setiap susunan bahasa
yang ada dalam bahasa orang-orang Arab.
b. Adanya uslub yang luar biasa, berbeda dengan semua uslub-uslub bahasa
Arab.
c. Sifat agung yang tidak mungkin lagi seorang makhluk untuk mendatangkan
hal yang seperti al-Qur’an.
d. Bentuk undang-undang yang detail dan sempurna yang melebihi setiap
undang-undang buatan manusia.
e. Mengabarkan hal-hal ghaib yang tidak bisa diketahui kecuali dengan
wahyu.
f. Tidak bertentangan dengan pengetahuan-pengetahuan umum yang
dipastikan kebenarannya.
g. Menepati janji dan ancaman yang telah dikabarkan di dalamnya
h. Memenuhi segala kebutuhan manusia.
i. Berpengaruh kepada hati pengikut dan musuh (orang yang menentangnya).
Sumber:
Yermijal Ferdian, Ilmu Tafsir (Jakarta: Kementerian Agama, 2019)
Syaifullah Amin, Al-Qur'an Hadis (Jakarta: Kementerian Agama, 2019)
Amar Ma'ruf dan Nur Hadi, Mengkaji Ilmu Tafsir 1 Untuk Kelas X Madrasah Aliyah Program Keagamaan (Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar