Definisi Qashash Al-Qur’an
Pengertian Etimologi
Di dalam al-Qur‟an kata qishash diungkapkan sebanyak dua puluh enam kali dalam berbagai bentuk, baik fi'il madhi, mudhari', 'amar, maupun mashdar yang tersebar dalam berbagai ayat dan surat. Penggunaan kata yang berulang kali ini memberikan isyarat akan urgensinya bagi umat manusia. Bahkan salah satu surat Al-Qur‟an dinamakan surat al-Qashash yang artinya kisah-kisah.
Qashash al-Qur’an merupakan kata yang tersusun dari dua kalimat yang berasal dari bahasa arab, yakni dari kata Qashash dan al-Qur’an. Kata qashash merupakan jamak dari qishshah yang berarti kisah, cerita, atau hikayat. Kalimat qishash bentuk plural dari kata qishshah, apabila disambung dengan al-Qur’an maka boleh dibaca qashash atau qishash, maka menjadi Qashashul Qur’an atau Qishashul Qur’an. Kedua-duanya dalam bahasa Indonesia berarti kisah-kisah al-Qur’an.
Kata kisah mempunyai persamaan makna dalam bahasa arab dengan lafaz sejarah, tarikh, sirah, dan atsar. Akan tetapi kata-kata itu tidak terdapat dalam al-Qur’an, hanya kata kisah yang dipakai al-Qur’an setelah menceritakan suatu rangkaian, baik itu kisah Nabi dengan umatnya maupun kisah-kisah lainnya. Maka kisah secara bahasa mempunyai banyak arti ada yang artinya mencari jejak. Seperti yang di dalam al-Qur'an surat al-Kahfi ayat 64 maksudnya kedua orang itu kembali mengikuti jejak dari mana keduanya datang. Kata qashash bisa bermakna urusan, berita, kabar maupun keadaan. Ditemukan dalam surat Ali Imron ayat 62 yang artinya sesungguhnya ini adalah berita-berita yang benar. Jadi, dari keterangan kata kisah menurut bahasa, dapatlah dikatakan bahwa kisah al-Qur’an adalah kisah-kisah yang tedapat dalam al-Qur’an.
Pengertian Terminologi
Imam Fakhruddin al-Razi mendefinisikan Qashashul Qur'an sebagai kumpulan perkataan-perkataan yang memuat petunjuk yang membawa manusia kepada hidayah agama Allah dan menunjukkan kepada kebenaran serta memerintahkan untuk mencari sebuah keselamatan.
Menurut Manna al-Khalil al-Qaththan mendefinisikan Qashashul Qur'an sebagai pemberitaan al-Qur'an tentang hal ihwal umat-umat dahulu dan para nabi, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi secara empiris. Ayat yang menjelaskan tentang kisah-kisah inilah yang paling banyak mendominasi ayat-ayat al-Qur'an dengan menunjukkan keadaan negeri-negeri yang ditempatinya dan peninggalan jejak mereka. Hal ini diungkapkan oleh al-Qur'an dengan menggunakan cara dan gaya bahasa yang menarik dan atau dengan cara shuratan nathiqah (artinya seolah-olah pembaca kisah tersebut menjadi pelaku sendiri yang menyaksikan peristiwa itu).
Menurut Hasbi ash-Shidiqiy, Qashashul Qur'an adalah kabar-kabar al-Qur'an mengenai keadaan umat yang telah lalu dan kenabian masa dahulu serta peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. Sementara yang lain seperti Quraish Shihab dalam buku Kaidah Tafsirnya mengatakan bahwa kisah al-Qur’an adalah menelusuri peristiwa atau kejadian dengan jalan menyampaikan atau menceritakannya tahap demi tahap sesuai dengan kronologi kejadiannya. Musa Syahin Lasin mendefinisikan dengan cerita-cerita al-Qur’an tentang keadaan umat-umat dan para nabi-nabi terdahulu, serta kejadian-kejadian nyata lainnya.
Dari beberapa definisi di atas, bahwasannya kisah-kisah yang ditampilkan al-Qur'an adalah agar dapat dijadikan pelajaran dan sekaligus sebagai petunjuk yang berguna bagi setiap orang beriman dan bertaqwa dalam rangka memenuhi tujuan diciptakannya yaitu sebagai abdi dan khalifah pemakmur bumi dan isinya. Serta memberikan pengertian tentang sesuatu yang terjadi dengan sebenarnya agar dijadikan ibrah (pelajaran) untuk memperkokoh keimanan dan membimbing ke arah perbuatan yang baik dan benar.
Macam-Macam Qashashul Qur'an
Manna' Al-Qaththan, membagi Qashas Al-Qur'an dalam tiga bagian, yaitu:
1. Kisah para Nabi terdahulu
Kisah mengandung informasi mengenai dakwah mereka kepada kaumnya, mukjizat-mukjizat yang memperkuat dakwahnya, sikap orang-orang yang memusuhinya, tahapan-tahapan dakwah dan perkembangannya serta akibat-akibat yang diterima oleh mereka yang mempercayai dan golongan yang mendustakan syariat yang dibawa Nabi mereka, seperti kisah Nabi Nuh, Hud, Shaleh, Nabi Isa dan Nabi-Nabi yang lainnya.
Kisah-kisah para nabi tersebut menjadi informasi yang sangat berguna bagi upaya meyakini para Nabi dan rasul Allah. Keimanan pada para Nabi dan Rasul merupakan suatu keharusan bagi umat Islam yang harus ditanamkan semenjak usia dini. Tanpa adanya keyakinan ini, seseorang tidak akan bisa membenarkan wahyu Allah SWT yang terdapat dalam kitab Allah yang berisi berbagai macam perintah maupun larangan-Nya. Jika seorang telah memiliki kemantapan dalam mengimani para Nabi dan Rasul, mereka akan dibawa dalam suatu keyakinan yang sama-sama diimani semua Nabi, yakni keesaan Allah SWT (tauhid).
Kisah Nabi juga bisa dijadikan teladan bagi kehidupan seseorang. Keteladanan diperlukan agar seseorang memiliki sosok yang bisa dijadikan idola. Misalnya sosok yang tampan seperti Nabi Yusuf AS, yang kaya seperti Nabi Sulaiman, yang handal dalam pertempuran seperti Nabi Musa AS. Dalam pembelajaran, peserta didik memiliki bermacam-macam karakter, bakat, dan pembawaan. Hal ini perlu dikembangkan dengan memberikan kisah-kisah pilihan Nabi dan Rasul.
2. Kisah yang berhubungan dengan kejadian pada masa lalu dan orang-orang yang tidak disebutkan kenabiannya, seperti kisah Maryam, Dzulqarnain, Lukmanul Hakim, dan Ashabul Kahfi.
Kisah tersebut ada yang patut kita teladani dan tidak perlu diteladani. Kisah teladan dari selain para Nabi dan rasul dapat dijadikan pelajaran bahwa meskipun tidak sebagai Nabi atau Rasul manusia tetap berpeluang menjadi orang baik yang bisa menjadi pilihan dan teladan yang lain. Sedangkan kisah yang tidak patut diteladani juga bermanfaat bagi upaya penjagaan diri agar tidak terjerumus pada perbuatan yang sama. Dari dua model kisah yang baik dan buruk bisa dijadikan bahan perbandingan pada diri peserta didik untuk membentuk karakter masing-masing anak agar kelak dewasa tidak masuk ke dalam kelompok orang-orang yang tidak layak untuk diteladani.
3. Kisah-kisah yang terjadi pada masa Rasulullah, seperti perang Badar, Uhud, Ahzab, dan perang Bani Nadzir.
Kisah-kisah tersebut dapat dipergunakan untuk memantapkan keyakinan dan keimanan peserta didik agar benar-benar mencontoh kebaikan yang dilakukan para sahabat yang telah berjuang dengan semangat. Peserta didik juga dimotivasi untuk selalu berjuang dan berkorban di jalan Allah SWT. Jika pada masa Rasulullah perjuangan dengan pertempuran di medan perang, saat ini bisa diwujudkan dengan berbagai sarana, seperti memerangi kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, ketidakadilan, dan ketimpangan yang terjadi di dalam masyarakat.
Tujuan Qashashul Qur'an
Menurut Sayyid Quthb di antara tujuan Qashashul Qur'an adalah:
- Menetapkan wahyu dan risalah Muhammad SAW (QS. Yusuf: 2-3)
- Menerangkan bahwa agama seluruhnya dari Allah, dan bahwa kaum mu'minin seluruhnya adalah umat yang satu (QS. al-Anbiya': 48-50)
- Menerangkan bahwa agama seluruhnya adalah satu dasar (QS. al-A'raf: 59)
- Menjelaskan bahwa cara para nabi dalam berdakwah itu satu dan penerimaan kaum mereka hampir mirip semuanya (QS. Hud: 25-27)
- Sebagai pemberitaan Allah bahwa pada akhirnya Allah selalu menolong para Nabi dan menghancurkan musuh-musuhnya
- Mengungkapkan janji dan ancaman
- Menunjukkan betapa besar nikmat Tuhan yang diberikan kepada Nabi-Nya
- Memperingatkan Bani Adam akan tipu daya dan godaan setan
- Menunjukkan bahwa Allah telah membuat hal-hal yang luar biasa untuk menolong nabi-Nya
Karakteristik Qashashul Qur'an
Kisah-kisah Al-Qur'an memiliki karakteristik yang berbeda dengan kisah atau cerita pada umumnya. Dalam Al-Qur'an Allah menegaskan "bahwa Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur'an ini kepadamu” (QS. Yusuf: 3). Dari ayat tersebut jelas bahwa kisah yang dituturkan dalam Al-Quran secara kualitatif memiliki keunggulan dan karakter yang paling bagus dibandingkan dengan cerita-cerita yang muncul di kalangan manusia secara umum. Di antara karakteristik dan keistimewaan kisah dalam Al-Qur'an adalah:
1. Kisah-kisah Al-Qur'an berupa peristiwa nyata yang benar-benar terjadi
Kisah Al-Qur'an bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan kitab-kitab terdahulu dan menjelaskan sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. Al-Qur'an memberikan kisah yang tepat meskipun suatu peristiwa tersebut telah terjadi dalam kurun berabad-abad yang lalu. Misalnya dalam kisah 'Ad dan Tsamud serta kehancuran kota Irom. Pada tahun 1980 ditemukan bukti sejarah secara arkeologi di kawasan Hisn al-Ghurab dekat kota Aden di Yaman tentang adanya kota yang dinamakan “Tsamutu, Ad, dan Irom”. Begitu pula tentang kisah tenggelam dan diselamatkannya badan Fir'aun (QS. Yunus: 90-92). Pada bulan Juni 1975, ahli bedah Perancis, Maurice Bucaille setelah meneliti mumi Fir'aun ditemukan bahwa Fir'aun meninggal di laut dengan adanya bekas-bekas garam yang memenuhi sekujur tubuhnya.
Kenyataan dan kebenaran kisah ini sekaligus dapat dipergunakan sebagai media bagi peserta didik agar selalu berkata jujur dan benar. Kebohongan dan kepalsuan dalam hidup haruslah dihindari agar dalam kehidupan benar mendapat ridha Allah SWT.
2. Kisah-kisah Al-Qur'an sejalan dalam kehidupan manusia
Meskipun Al-Qur'an merupakan kalam Allah, kisah-kisah yang dituturkannya tidak terlepas dari kehidupan manusia. Karena itu, manusia dengan cepat mampu memahami isyarat tersebut. Kesesuaian ini memberikan indikasi bahwa kehidupan ini sudah selayaknya mengikuti pedoman dan petunjuk dari Al-Qur'an jika ingin mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat.
3. Kisah-kisah al-Qur'an tidak sama dengan ilmu sejarah
Al-Qur'an memiliki karakteristik yang berbeda dengan sejarah yang ditulis para sejarawan. Al-Qur'an tidak hanya membincangkan sejarah secara umum, tetapi merupakan kisah pilihan yang mampu menguatkan keimanan. Dan di dalam kisah-kisah terdapat pelajaran yang dapat diambil oleh orang-orang berakal.
4. Kisah Al-Qur'an sering diulang-ulang
Al-Qur'an banyak mengandung kisah-kisah yang diungkapkan secara berulang kali di beberapa tempat. Sebuah kisah terkadang berulang kali disebutkan dalam Al-Qur'an dan dikemukakan dalam berbagai bentuk yang berbeda. Demikian pula terkadang dikemukakan secara ringkas dan kadang-kadang secara panjang lebar, dan sebagainya.
Hikmah Pengulangan Kisah
Dalam Al-Qur’an akan dijumpai pengulangan kisah, tetapi kisah yang berulang itu disajikan dalam bentuk yang berbeda-beda, terkadang di satu tempat ada bagian-bagian tertentu yang didahulukan dari sebuah kisah dan ditempat lainnya diakhirkan, dan ada juga suatu kisah dalam satu tempat diceritakan dalam bentuk yang sangat singkat tetapi di tempat lain muncul lagi kisah yang sama dalam bentuk yang lebih panjang uraiannya sehingga lebih lengkap lagi informasi dari sebuah kisah yang dikemukakan Al-Qur’an.
Tentu Allah tidak mengulang kisah tanpa memiliki hikmah tertentu. Pengulangan itu mengandung multi fungsi dan misi, antara lain sebagai berikut:
1. Menguatkan kesadaran atau ingatan terhadap subtansi kisah tersebut.
2. Pengulangan kisah itu merupakan salah satu bentuk kemukjizatan Al-Qur’an, karena pengulangan kisah yang sama dalam berbagai kesempatan dengan gaya bahasa dan misi yang berlainan sulit bahkan mustahil dilakukan oleh manusia biasa.
3. Sahabat Nabi yang baru masuk Islam bisa mendengar langsung penjelasan Rasul ketika ayat qashash diturunkan kesekian kalinya, karena mungkin mereka belum mendengar kisah itu saat turun ayat qashash sebelumnya.
4. Minimnya orang yang hafal seluruh Al-Qur’an, dengan adanya pengulangan kisah barangkali orang yang hanya hafal satu surat bisa memahami lebih mudah surat lain yang memuat kisah yang sama.
5. Terkadang qashash tidak dikisahkan sekaligus sempurna dengan alur maju, tetapi diceritakan potongan kisah di beberapa tempat yang berbeda sesuai konteksnya, agar tidak melelahkan sekaligus memperjelas misi.
6. Kisah yang diceritakan Al-Qur’an secara terpisah dapat dijadikan pelajaran oleh umat Islam secara umum, sesuai dengan ragam problema yang dihadapi, sekaligus disesuaikan dengan tingkat strata pemahaman, strata sosial, atau strata ilmiah yang berbeda.
Referensi:
Nurul Hidayati Rofiah, Kisah-Kisah Dalam Al-Qur’an Dan Relevansinya Dalam Pendidikan Anak Usia SD/MI, PGSD FKIP UAD
Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia (Surabaya: Progressif, 1997)
Abdul Karim Zaidan, Al-Mustafad Min Qashash Al-Qur’an Wa As-Sunnah, Jilid I (Beirut: Muassasa Al-Risalah, 2002)
Badri Khaeruman, Sejarah Perkembangan Tafsir Al-Qur’an Cet. I (Bandung: Pustaka Setia, 2004)
Fakhruddin al-Razi, Mafâtîhu al-Ghaib, Cet. III, 1420 H
M. Quraish Shihab, Kaidah Tafsir, Cet. I (Tangerang: Lentera Hati, 2013)
Musa Syahin Lasin, Al-Lâlil Hisan Fi ‘Ulumul Al-Qur’an, Darusy Syuruq
Nur Faizin, 10 Tema Kontroversial ‘Ulumul Qur’an, Cet. I (JawaTimur: Azhar Risalah, 2011)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar