وَأَنْذِرْ
عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ. وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ
الْمُؤْمِنِينَ. فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ
(214) Dan berilah
peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. (215) Dan rendahkanlah dirimu
terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. (216) Jika
mereka mendurhakaimu maka katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab
terhadap apa yang kamu kerjakan”
Asbabun Nuzul Ayat 214
"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat."
Ketika ayat ini turun
Rasulullah saw bersabda: “Wahai Bani Abdul Muthallib, demi Allah tidak pernah
aku ketahui di seluruh bangsa Arab sesuatu yang lebih utama dari apa yang aku
bawa untukmu. Aku datang kepadamu untuk kebaikan di dunia dan akhirat. Allah
telah menyuruhku mengajakmu kepada-Nya. Maka, siapakah di antara kamu yang
bersedia membantuku dalam urusan ini untuk menjadi saudaraku, washiku dan
khalifahku?”
Mereka semua tidak bersedia kecuali Ali bin Abi Thalib yang saat
itu paling muda. Ali berdiri seraya berkata: “Aku ya Nabiyallah, aku (bersedia
menjadi) wazir (pembantu)mu dalam urusan ini.” Kemudian Rasulullah saw memegang
bahu Ali seraya bersabda: “Sesungguhnya Ali ini adalah saudaraku, washiku, dan
khalifahku terhadap kalian, maka dengarlah dia dan taatilah dia.” Mereka
tertawa sambil berkata kepada Abu Thalib: Kamu disuruh mendengar dan mentaati
anakmu. (Lebih rinci, baca hadis Indzar).
Memahami Kandungan Surah asy-Syu'ara Ayat 214-216
Ayat 214 ini menjelaskan bahwa Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad
untuk memberikan keterangan (ajakan) beriman kepada Allah untuk kalangan
keluarga dekatnya. Ayat ini mengajarkan kepada Rasulullah dan umatnya agar tidak
mengenal pilih kasih/ memberi kemudahan kepada keluarga dalam hal pemberian
peringatan, tidak ada kebal hukum, tidak terbebaskan dari kewajiban, dan tidak
memiliki hak berlebih atas dasar kekerabatan karena semua adalah hambah Allah.
Keluarga dekat dari yang terdekat sekalipun, tidak boleh mengakibatkan seseorang
yang beriman mengorbankan keimanannya demi karena keluarga. Memang akan
ada di antara mereka yang tidak setuju dengan seruan dakwah, tetapi hendaklah
tegar menghadapi mereka dan berpegang teguh pada petunjuk Allah.
Perintah melakukan dakwah kepada obyek dakwah (mad’u) yaitu keluarga
sanak kerabat terdekat (extended family). Keluarga kerabat inilah yang harus
menjadi perhatian utama dalam berdakwah agar keimanan dan keislaman mereka
terjaga sesuai tuntunan Allah. Jadi, kita bisa melakukan dakwah di lingkungan
keluarga dengan cara mengajak kebaikan dan mendidik untuk berbuat baik
menurut tuntunan Islam. Orang tua mendidik anak-anaknya untuk melaksanakan
shalat dengan tertib dan baik, mengajarkan perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari di rumah menurut Islam. Itu semua merupakan bagian dari kegiatan dakwah.
Begitu juga bagi anak tertua atau yang usianya lebih dewasa mengajarkan kepada
adik-adiknya untuk melakukan kebaikan sesuai ajaran Islam, itu juga bagian dari
kegiatan dakwah. Termasuk juga siswa berdakwah di lingkungan sekolah kepada
teman-temanya agar berbuat baik kepada guru, tertib ibadahnya dan lainnya.
Pada ayat 215, sangat ditekankan agar da’i (pelaku dakwah) memiliki sikap yang
penuh rendah hati dan penuh perhatian kepada orang-orang mukmin yang
mengikuti seruan dakwahnya. Hal ini dimaksudkan agar mereka tetap setia berada
dalam jalan kebaikan dan tidak menjauhi dakwahnya. Juga agar hati mereka lebih tertarik dan menyenangi agama yang baru dianut (bagi mereka yang baru masuk Islam), dapat terjalin hubungan kasih sayang, mencintai dan menolong serta membela sesama mukmin.
Dalam ayat 216, ayat ini menyadarkan dan menguatkan kepada juru dakwah bahwa tidak
semua orang mau mengikuti seruhan dakwah yang dilakukan. Jika ada orang
yang mengingkari seruan dakwah, maka sang juru dakwah sudah terlepas
tanggungjawabnya. Tugas pendakwah adalah menyampaikan ajaran Islam,
sedangkan yang memberi hidayah (petunjuk) orang yang didakwahi itu mau
menerima atau mengikuti seruhan, itu sudah menjadi hak Allah. Karena itu, seorang
da'i tidak boleh membenci apalagi merasa sakit hati kepada orang yang tidak mau
mengikutinya.
Karena itulah, ayat ini memerintahkan untuk bertawakkal dan menyerahkan
urusan itu kepada Allah adalah untuk menguatkan hati optimisme da’i bahwa Allah
Maha Perkasa. Betapapun keras hati kaum/ masyarakat (mad’u) menentang seruan
dakwah, namun kehendak Allah tidaklah akan dapat mereka tentang. Jerih payah da’i dalam menyampaikan dakwah itu tidaklah akan dibiarkan Allah hilang dengan
percuma saja.
Sumber:
M. Ziyad, Tafsir Ilmu
Tafsir (Jakarta: Kementerian Agama, 2016)
Amari Ma'ruf dan
Nurhadi, Mengkaji Ilmu Tafsir 3 untuk Kelas XII Madrasah Aliyah Program
Keagaamaan (Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2017)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar