Kamis, 23 Juli 2020

Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah dalam Al-Qur'an

Apa Maksud serta Perbedaan dari Surat Makkiyah dan Madaniyah ?

Pengertian Ayat Makkiyyah dan Madaniyyah
Para sarjana muslim mengemukakan tiga perspektif (pandangan) dalam mendefinisikan Makkiyyah dan Madaniyyah yaitu: 
1. Dari perspektif masa turunnya Al-Qur’an. Makkiyyah adalah ayat-ayat yang turun sebelum Rasulullah saw. hijrah ke Madinah kendatipun bukan turun di Mekkah. Sedangkan Madaniyyah adalah ayat-ayat yang turun sesudah Rasulullah Saw. hijrah ke Madinah kendatipun bukan turun di Madinah. Ayat-ayat yang turun setelah hijrah disebut Madaniyyah walaupun turun di Mekkah atau Arafah seperti surah An-Nisa’ ayat 58 termasuk kategori Madaniyyah meskipun turun di Mekkah yaitu pada saat peristiwa Fathul Mekkah. Demikian juga Surah Al-Maidah ayat 3 termasuk kategori Makkiyyah meskipun diturunkan di Madinah karena ayat ini terjadi peristiwa haji wada’;

2. Dari perspektif tempat turun Al-Qur’an. Makkiyyah adalah ayat-ayat yang turun di Mekkah dan sekitarnya seperti Mina, Arafah Hudaibiyah. Sedangkan Madaniyyah adalah ayat-ayat yang turun di Madinah dan sekitarnya seperti Uhud, Quba dan Hula;

3. Dari perspektif obyek atau khithab pembicaraan. Makkiyyah adalah ayat-ayat yang menjadi khithab bagi orang-orang Mekkah. Sedangkan Madaniyyah adalah ayat-ayat yang menjadi khithab bagi orang-orang Madinah.

Dari definisi di atas, para ulama menyimpulkan menjadi tiga segi yakni segi khithabi (obyek pembicaraan), makani (tempat) dan zamani (waktu). Dalam ayat-ayat Makkiyyah, yang menjadi khithab adalah orang-orang Mekkah yang pada umumnya adalah orang-orang musyrikin. Jadi ayat-ayat tersebut membicarakan tentang kemusyrikan dan kepada mereka disuruh untuk bertauhid. Pada umumnya orang-orang Mekkah dan memiliki sifat-sifat sombong, keras kepala dan susah menerima ajaran agama. Sedangkan ayat-ayat yang diturunkan di Madinah khithabnya adalah orang-orang yang sudah beriman, juga orang-orang yang munafik dan ahli kitab yaitu orang-orang Yahudi. Dengan demikian, orang-orang Madinah lebih majemuk bila dibandingkan dengan orang-orang Mekkah. Di masyarakat Madinah ada kepercayaan dari orang-orang Yahudi bahwa akan datang seorang utusan atau Rasul di akhir zaman. Kepercayaan ini disebarluaskan di kalangan orang-orang Madinah, sehingga dengan demikian orang-orang Madinah lebih mudah masuk Islam dan menerima ajaran-ajaran Islam ketimbang orang-orang Mekkah.

Menurut Abu Zaid, pembagian Makkiyyah-Madaniyyah memberikan gambaran tentang dua fase penting dalam pembentukan teks keagamaan (Al-Qur’an), baik dari segi isi, struktur, atau konstruksinya. Dengan demikian, tambah Abu Zaid, ilmu tentang Makkiyyah-Madaniyyah menunjukkan adanya interaksi yang intensif dan harmonis antara teks (Al-Qur’an) dan realita sejarah. Kajian Makkiyyah-Madaniyyah dapat pula memberikan informasi tentang berbagai variasi gaya komunikasi Al-Qur’an untuk menyeru orang-orang yang beriman, kafir, atau ahlul kitab, baik dari aspek linguistik (bahasa) dan stilistik (gaya bahasa), atau aspek pesan dan wacana. Pendapat serupa dikemukakan Abu Zaid, bahwa kajian Makkiyyah-Madaniyyah sebagai salah satu instrumen penting untuk menganalisis konteks komunikasi Al-Qur’an (siyâq al-takhâtub). Melalui ilmu ini, tambahnya lagi dapat dikaji karakteristik stilistik dan linguistik yang membedakan wacana Al-Qur’an (al-Khithâbal-Qur’âny) dalam periode da’wah faktual historis.

Cara Mengetahui Makkiyyah dan Madaniyyah
Untuk mengetahui dan menentukan Makkiyyah dan Madaniyyah para ulama bersandar kepada sima’i naqli dan qiyasi ijtihadi. Sima’i naqli yaitu didasarkan pada riwayat yang shahih dari para sahabat yang hidup pada saat dan menyaksikan turunnya wahyu atau dari para tabi’in yang menerima dan mendengar dari para sahabat bagaimana, di mana dan peristiwa apa yang berkaitan dengan turunnya wahyu itu. Sebagian besar penentuan Makkiyyah dan Madaniyyah itu didasarkan pada cara ini.

Sedangkan qiyasi ijtihadi adalah didasarkan pada ciri-ciri Makkiyyah dan Madaniyyah. Apabila surat Makkiyyah terdapat suatu ayat yang mengandung sifat Madani atau mengandung peristiwa Madani maka dikatakan bahwa ayat tersebut Madani. Apabila surat dalam Madaniyyah terdapat suatu ayat yang mengandung sifat Makki atau mengandung peristiwa Makki, maka ayat tadi dikatakan sebagai ayat Makkiyyah. Bila dalam satu surat terdapat ciri-ciri Makkiyyah maka surat itu dinamakan Makkiyyah. Demikian pula bila dalam satu surat terdapat ciri-ciri Madaniyyah, maka surat itu namakan surat Madaniyyah.

Para ulama mengatakan, setiap surat yang didalamnya mengandung kisah para nabi dan umat-umat terdahulu, maka surat itu adalah surat Makkiyyah. Dan setiap surat yang di dalamnya mengandung kewajiban atau ketentuan hukum, maka surat itu adalah Madani. Namun demikian, semua itu tidak terdapat sedikitpun keterangan dari Rasulullah Saw., karena hal itu tidak termasuk dalam kewajiban kecuali terdapat dalam batas yang dapat membedakan mana yang nasikh dan mana yang mansukh.

Al-Qadhi Abu Bakar bin Ath-Thayyib al-Baqillani menegaskan bahwa pengetahuan tentang Makkiyyah dan Madaniyyah itu mengacu pada hafalan para sahabat dan tabi’in. Tidak ada satu pun keterangan yang datang dari Rasulullah mengenai hal itu, karena Beliau tidak diperintahkan untuk itu dan Allah menjadikan ilmu pengetahuan itu sebagai kewajiban umat.

Ciri-ciri Surat Makkiyyah dan Madaniyyah
Pertama, ayat-ayat Makkiyyah itu pendek-pendek dan dinamai ayat-ayat Qishar, sedangkan ayat-ayat Madaniyyah panjang-panjang dan dinamai ayat-ayat Thiwal.

Buktinya, surat-surat yang diturunkan di Madinah hanya 11/30 Al-Qur'an. Bilangan ayatnya 1.456 (seribu empat ratus lima puluh enam). Lihatlah juz Qad Sami'a yang diturunkan di Madinah. Ayatnya hanya 137 (seratus tiga puluh tujuh). Dan juz Tabaraka yang diturunkan di Mekkah bilangan ayatnya 431 (empat ratus tiga puluh satu). Ini menurut jumlahnya.

Kedua, kebanyakan firman Allah dalam surah Madaniyyah dimulai dengan perkataan:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
"Wahai orang-orang yang beriman."
Cuma ada tujuh ayat saja dari Madaniyyah yang dimulai dengan:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ
"Wahai manusia."
a. QS. Al-Baqarah ayat 21
b. QS. Al-Baqarah ayat 167
c. QS. An-Nisa` ayat 1
d. QS. An-Nisa` ayat 132
e. QS. An-Nisa` ayat 137
f. QS. An-Nisa` ayat 169
g. QS. Al-Hujurat ayat 3

Ketiga, ayat-ayat Makkiyyah kebanyakan mengandung soal tauhid, soal kepercayaan, adanya Allah, hal ihwal adzab dan nikmat di hari kemudian serta urusan-urusan kebaikan. Ayat-ayat hukum yang jelas tegas kandungannya, kebanyakan turun di Madinah.

Jumlah Surah-surah Makkiyyah dan Madaniyyah
Semua berkata bahwa jumlah surah-surah Madaniyyah adalah 20 surah dan yang menjadi perbedaan adalah 12 surah dan selainnya adalah termasuk surah-surah Makkiyyah.

Surah-surah Madaniyyah yang disepakati oleh semua ulama adalah: surah Al-Baqarah, surah Al-Maidah, surah An-Nur, surah Al-Fath, surah Al-Mujadalah, surah Al-Jumu'ah, surah At-Tahrim, Surah Ali Imran, Surah Al-Anfal, surah Al-Ahzab, surah Al-Hujurat, surah Al-Hasyr, surah Al-Munafiqun, Surah An-Nashr, surah An-Nisa, surah At-Taubah, surah Muhammad, surah Al-Hadid, surah Al-Mumtahanah dan surah Ath-Thalaq.

Surah-surah yang menjadi perselisihan di antara para ulama adalah: Surah Al-Fatihah, surah Ash-Shaff, surah Ar-Ra'd, surah At-Taghabun, surah Ar-Rahman, surah Al-Muthaffifin, surah Al-Qadr, surah Al-Bayyinah, surah Az-Zalzalah, surah Al-Ikhlash, surah Al-Falaq dan surah An-Nas.

Berdasarkan hal ini, sisa dari surah-surah Al-Qur'an lainnya terhitung surah-surah Makkiyyah dan jumlahnya adalah 82 surah.

Manfaat Mengenal Makkiyyah dan Madaniyyah
1. Membantu dalam menafsirkan Al-Qur'an. Dari sisi bahwa untuk memahami ketelitian ayat-ayat dan isyarat-isyaratnya memiliki hubungan yang erat dengan tempat, maka penting bagi para mufassir untuk mengenal ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah;

2. Dari sisi bahwa untuk membedakan antara ayat-ayat yang nasikh (yang menghapus) dan mansukh (yang dihapus hukumnya) yang merupakan hal-hal yang menjadi perbedaan pendapat dalam 'Ulumul Qur'an memerlukan pengenalan terhadap ayat-ayat sebelumnya dan ayat-ayat setelahnya, maka ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah merupakan sebuah mukadimah yang sangat penting dalam membedakan antara ayat-ayat nasikh dan mansukh;

3. Mengenal tahapan penyempurnaan pensyari'atan dan penetapan hukum;

4. Mengetahui bagaimana turunnya Al-Qur'an dan membantu mengetahui asbabun nuzul yang juga merupakan bagian dari 'Ulumul Qur'an;

5. Menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan sirah perjalanan Nabi Muhammad Saw.

Sumber:
Muhammad Husni, Studi Al-Qur'an: Teori Al Makkiyah dan Al Madaniyah, Jurnal Al-Ibrah, Vol. 4 No. 2, Desember 2019.
http://id.wikishia.net/view/Surah-surah_Makkiyah_dan_Madaniyah

8 komentar:

  1. Masya allah, setip kalam yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad sangatlah indah, sehingga penting sekali untuk kita mengetahui sirah perjalanannya, terutama mengenai penetapan Makkiyah Madaniyah nya, karena dari situlah dapat diketahui asbabun nuzul nya. Maka pentinglah bagi kita sebagai pelajar muslim untuk mempelajari Ulumul Qur'an, agar mengetahui setiap sirah perjalanan al Qur'an.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Subhaanallah, Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al Qu'an kepada Nabi Muhammad SAW.setelah membaca artikel ini yang tadinya tidak tahu tentang manfaat mengenal makiyyah dan madaniyyah,Alhamdulillah sedikit sedikit mengerti dan tahu.Barokallahu fiik.

    BalasHapus
  5. MasyaAllah.. Ternyata setiap surah,, setiap ayat yang diturunkan Allah SWT mengandung makna yang berbeda beda.. Sehingga penting bagi umat Islam untuk mempelajari setiap ayat yang turun untuk di pahami arti,, makna, ,dan isinya.. Sehingga dapat di ambil hikmah dan pelajaran nya

    BalasHapus
  6. MasyaAllah, setelah membaca artikel ini, saya menjadi paham, apa maksud dari ayat² Makkiyah dan Madaniyyah dengan jelas..

    BalasHapus
  7. Maa syaa Alloh, artikel ini mengingatkan kita tentang kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. sebagai petunjuk untuk sekalian alam. Didalam alquran itu terdapat beberapa surat yang tergolong kedalam surat makkiyah dan madaniyah. Keduanya merujuk pada dua kota utama yang menjadi tempat dakwah Rosululloh SAW., yaitu makkah dan madinah.

    BalasHapus
  8. Masyaallah, allhamdulilah, setelah membaca arrikel ini saya mulai paham dengan jelas. Biasanya saya hanya tau saja tanpa ada kejelasan apapun. Terimakasih

    BalasHapus