Pengertian Ayat Makkiyyah dan Madaniyyah
Para sarjana muslim mengemukakan tiga perspektif (pandangan) dalam
mendefinisikan Makkiyyah dan Madaniyyah yaitu:
1. Dari perspektif masa turunnya
Al-Qur’an. Makkiyyah adalah ayat-ayat yang turun sebelum Rasulullah saw. hijrah
ke Madinah kendatipun bukan turun di Mekkah. Sedangkan Madaniyyah adalah
ayat-ayat yang turun sesudah Rasulullah Saw. hijrah ke Madinah kendatipun
bukan turun di Madinah. Ayat-ayat yang turun setelah hijrah disebut Madaniyyah
walaupun turun di Mekkah atau Arafah seperti surah An-Nisa’ ayat 58 termasuk kategori Madaniyyah meskipun turun di Mekkah yaitu pada saat peristiwa Fathul
Mekkah. Demikian juga Surah Al-Maidah ayat 3 termasuk kategori Makkiyyah
meskipun diturunkan di Madinah karena ayat ini terjadi peristiwa haji wada’;
2. Dari perspektif tempat turun Al-Qur’an. Makkiyyah adalah ayat-ayat yang turun di
Mekkah dan sekitarnya seperti Mina, Arafah Hudaibiyah. Sedangkan Madaniyyah
adalah ayat-ayat yang turun di Madinah dan sekitarnya seperti Uhud, Quba dan
Hula;
3. Dari perspektif obyek atau khithab pembicaraan. Makkiyyah adalah ayat-ayat
yang menjadi khithab bagi orang-orang Mekkah. Sedangkan Madaniyyah adalah
ayat-ayat yang menjadi khithab bagi orang-orang Madinah.
Dari definisi di atas, para ulama menyimpulkan menjadi tiga segi yakni
segi khithabi (obyek pembicaraan), makani (tempat) dan zamani (waktu). Dalam ayat-ayat Makkiyyah, yang menjadi khithab
adalah orang-orang Mekkah yang pada umumnya adalah orang-orang musyrikin.
Jadi ayat-ayat tersebut membicarakan tentang kemusyrikan dan kepada mereka
disuruh untuk bertauhid. Pada umumnya orang-orang Mekkah dan memiliki
sifat-sifat sombong, keras kepala dan susah menerima ajaran agama. Sedangkan
ayat-ayat yang diturunkan di Madinah khithabnya adalah orang-orang yang sudah
beriman, juga orang-orang yang munafik dan ahli kitab yaitu orang-orang Yahudi.
Dengan demikian, orang-orang Madinah lebih majemuk bila dibandingkan
dengan orang-orang Mekkah. Di masyarakat Madinah ada kepercayaan dari
orang-orang Yahudi bahwa akan datang seorang utusan atau Rasul di akhir
zaman. Kepercayaan ini disebarluaskan di kalangan orang-orang Madinah,
sehingga dengan demikian orang-orang Madinah lebih mudah masuk Islam dan
menerima ajaran-ajaran Islam ketimbang orang-orang Mekkah.
Menurut Abu Zaid, pembagian Makkiyyah-Madaniyyah memberikan
gambaran tentang dua fase penting dalam pembentukan teks keagamaan (Al-Qur’an), baik dari segi isi, struktur, atau konstruksinya. Dengan demikian, tambah
Abu Zaid, ilmu tentang Makkiyyah-Madaniyyah menunjukkan adanya interaksi
yang intensif dan harmonis antara teks (Al-Qur’an) dan realita sejarah. Kajian
Makkiyyah-Madaniyyah dapat pula memberikan informasi tentang berbagai
variasi gaya komunikasi Al-Qur’an untuk menyeru orang-orang yang beriman,
kafir, atau ahlul kitab, baik dari aspek linguistik (bahasa) dan stilistik (gaya bahasa), atau aspek pesan dan
wacana. Pendapat serupa dikemukakan Abu Zaid, bahwa kajian Makkiyyah-Madaniyyah sebagai salah satu instrumen penting untuk menganalisis konteks
komunikasi Al-Qur’an (siyâq al-takhâtub). Melalui ilmu ini, tambahnya lagi dapat
dikaji karakteristik stilistik dan linguistik yang membedakan wacana Al-Qur’an
(al-Khithâbal-Qur’âny) dalam periode da’wah faktual historis.
Cara Mengetahui Makkiyyah dan Madaniyyah
Untuk mengetahui dan menentukan Makkiyyah dan Madaniyyah para ulama
bersandar kepada sima’i naqli dan qiyasi ijtihadi. Sima’i naqli yaitu didasarkan pada
riwayat yang shahih dari para sahabat yang hidup pada saat dan menyaksikan
turunnya wahyu atau dari para tabi’in yang menerima dan mendengar dari para
sahabat bagaimana, di mana dan peristiwa apa yang berkaitan dengan turunnya
wahyu itu. Sebagian besar penentuan Makkiyyah dan Madaniyyah itu didasarkan
pada cara ini.
Sedangkan qiyasi ijtihadi adalah didasarkan pada ciri-ciri Makkiyyah
dan Madaniyyah. Apabila surat Makkiyyah terdapat suatu ayat yang mengandung
sifat Madani atau mengandung peristiwa Madani maka dikatakan bahwa ayat
tersebut Madani. Apabila surat dalam Madaniyyah terdapat suatu ayat yang
mengandung sifat Makki atau mengandung peristiwa Makki, maka ayat tadi
dikatakan sebagai ayat Makkiyyah. Bila dalam satu surat terdapat ciri-ciri Makkiyyah
maka surat itu dinamakan Makkiyyah. Demikian pula bila dalam satu surat
terdapat ciri-ciri Madaniyyah, maka surat itu namakan surat Madaniyyah.
Para
ulama mengatakan, setiap surat yang didalamnya mengandung kisah para nabi
dan umat-umat terdahulu, maka surat itu adalah surat Makkiyyah. Dan setiap surat yang di dalamnya mengandung kewajiban atau ketentuan hukum, maka surat itu
adalah Madani. Namun demikian, semua itu tidak terdapat sedikitpun
keterangan dari Rasulullah Saw., karena hal itu tidak termasuk dalam kewajiban
kecuali terdapat dalam batas yang dapat membedakan mana yang nasikh dan
mana yang mansukh.
Al-Qadhi Abu Bakar bin Ath-Thayyib al-Baqillani menegaskan
bahwa pengetahuan tentang Makkiyyah dan Madaniyyah itu mengacu pada hafalan
para sahabat dan tabi’in. Tidak ada satu pun keterangan yang datang dari
Rasulullah mengenai hal itu, karena Beliau tidak diperintahkan untuk itu dan
Allah menjadikan ilmu pengetahuan itu sebagai kewajiban umat.
Ciri-ciri Surat Makkiyyah dan Madaniyyah
Pertama, ayat-ayat Makkiyyah itu pendek-pendek dan dinamai ayat-ayat Qishar, sedangkan ayat-ayat Madaniyyah panjang-panjang dan dinamai ayat-ayat Thiwal.
Buktinya, surat-surat yang diturunkan di Madinah hanya 11/30 Al-Qur'an. Bilangan ayatnya 1.456 (seribu empat ratus lima puluh enam). Lihatlah juz Qad Sami'a yang diturunkan di Madinah. Ayatnya hanya 137 (seratus tiga puluh tujuh). Dan juz Tabaraka yang diturunkan di Mekkah bilangan ayatnya 431 (empat ratus tiga puluh satu). Ini menurut jumlahnya.
Kedua, kebanyakan firman Allah dalam surah Madaniyyah dimulai dengan perkataan:
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا
"Wahai orang-orang yang beriman."
Cuma ada tujuh ayat saja dari Madaniyyah yang dimulai dengan:
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ
"Wahai manusia."
a. QS. Al-Baqarah ayat 21
b. QS. Al-Baqarah ayat 167
c. QS. An-Nisa` ayat 1
d. QS. An-Nisa` ayat 132
e. QS. An-Nisa` ayat 137
f. QS. An-Nisa` ayat 169
g. QS. Al-Hujurat ayat 3
Ketiga, ayat-ayat Makkiyyah kebanyakan mengandung soal tauhid, soal kepercayaan, adanya Allah, hal ihwal adzab dan nikmat di hari kemudian serta urusan-urusan kebaikan. Ayat-ayat hukum yang jelas tegas kandungannya, kebanyakan turun di Madinah.
Jumlah Surah-surah Makkiyyah dan Madaniyyah
Semua berkata bahwa
jumlah surah-surah Madaniyyah adalah 20 surah dan yang menjadi perbedaan adalah
12 surah dan selainnya adalah termasuk surah-surah Makkiyyah.
Surah-surah
Madaniyyah yang disepakati oleh semua ulama adalah: surah Al-Baqarah, surah
Al-Maidah, surah An-Nur, surah Al-Fath, surah Al-Mujadalah, surah Al-Jumu'ah,
surah At-Tahrim, Surah Ali Imran, Surah Al-Anfal, surah Al-Ahzab, surah
Al-Hujurat, surah Al-Hasyr, surah Al-Munafiqun, Surah An-Nashr, surah An-Nisa,
surah At-Taubah, surah Muhammad, surah Al-Hadid, surah Al-Mumtahanah dan surah
Ath-Thalaq.
Surah-surah yang
menjadi perselisihan di antara para ulama adalah: Surah Al-Fatihah, surah
Ash-Shaff, surah Ar-Ra'd, surah At-Taghabun, surah Ar-Rahman, surah
Al-Muthaffifin, surah Al-Qadr, surah Al-Bayyinah, surah Az-Zalzalah, surah
Al-Ikhlash, surah Al-Falaq dan surah An-Nas.
Berdasarkan hal
ini, sisa dari surah-surah Al-Qur'an lainnya terhitung surah-surah Makkiyyah dan
jumlahnya adalah 82 surah.
1. Membantu dalam
menafsirkan Al-Qur'an. Dari sisi bahwa untuk memahami ketelitian ayat-ayat dan
isyarat-isyaratnya memiliki hubungan yang erat dengan tempat, maka penting bagi
para mufassir untuk mengenal ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah;
2. Dari sisi bahwa
untuk membedakan antara ayat-ayat yang nasikh (yang menghapus) dan mansukh
(yang dihapus hukumnya) yang merupakan hal-hal yang menjadi perbedaan pendapat
dalam 'Ulumul Qur'an memerlukan pengenalan terhadap ayat-ayat sebelumnya dan
ayat-ayat setelahnya, maka ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah merupakan sebuah
mukadimah yang sangat penting dalam membedakan antara ayat-ayat nasikh dan
mansukh;
3. Mengenal tahapan
penyempurnaan pensyari'atan dan penetapan hukum;
4. Mengetahui
bagaimana turunnya Al-Qur'an dan membantu mengetahui asbabun nuzul yang juga
merupakan bagian dari 'Ulumul Qur'an;
5. Menyelesaikan
permasalahan yang berkaitan dengan sirah perjalanan Nabi Muhammad Saw.
Muhammad Husni, Studi Al-Qur'an: Teori Al Makkiyah dan Al Madaniyah, Jurnal Al-Ibrah, Vol. 4 No. 2, Desember 2019.
http://id.wikishia.net/view/Surah-surah_Makkiyah_dan_Madaniyah
Masya allah, setip kalam yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad sangatlah indah, sehingga penting sekali untuk kita mengetahui sirah perjalanannya, terutama mengenai penetapan Makkiyah Madaniyah nya, karena dari situlah dapat diketahui asbabun nuzul nya. Maka pentinglah bagi kita sebagai pelajar muslim untuk mempelajari Ulumul Qur'an, agar mengetahui setiap sirah perjalanan al Qur'an.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSubhaanallah, Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al Qu'an kepada Nabi Muhammad SAW.setelah membaca artikel ini yang tadinya tidak tahu tentang manfaat mengenal makiyyah dan madaniyyah,Alhamdulillah sedikit sedikit mengerti dan tahu.Barokallahu fiik.
BalasHapusMasyaAllah.. Ternyata setiap surah,, setiap ayat yang diturunkan Allah SWT mengandung makna yang berbeda beda.. Sehingga penting bagi umat Islam untuk mempelajari setiap ayat yang turun untuk di pahami arti,, makna, ,dan isinya.. Sehingga dapat di ambil hikmah dan pelajaran nya
BalasHapusMasyaAllah, setelah membaca artikel ini, saya menjadi paham, apa maksud dari ayat² Makkiyah dan Madaniyyah dengan jelas..
BalasHapusMaa syaa Alloh, artikel ini mengingatkan kita tentang kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. sebagai petunjuk untuk sekalian alam. Didalam alquran itu terdapat beberapa surat yang tergolong kedalam surat makkiyah dan madaniyah. Keduanya merujuk pada dua kota utama yang menjadi tempat dakwah Rosululloh SAW., yaitu makkah dan madinah.
BalasHapusMasyaallah, allhamdulilah, setelah membaca arrikel ini saya mulai paham dengan jelas. Biasanya saya hanya tau saja tanpa ada kejelasan apapun. Terimakasih
BalasHapus